Pages

Kamis, 27 Februari 2014

Saat Ketika Hari Berakhir

Suatu saat ketika hari berakhir. Adakah sesuatu yang mesti tersampaikan. Masing-masing punya waktu. Walau memikirkan hal itu begitu duka, aku satu diantara semua ciptaan tidak ingin pergi tanpa meninggalkan senyum di wajah mereka. Satu waktu yang berhenti. Tak ada lagi yang dapat tersentuh. Maka meninggalkan jejak tulisan adalah tepat.
Hidup dalam panggilan. Tujuan hidup untukNya. Walau setiap orang tahu mereka akan mati, tetapi manusia seolah hidup tak akan pernah mati.
Aku beruntung. Terpilih untuk mengenalNya. Juruselamat.
Bagaimana dunia setelah ini?
Ketika rasa sakit raga menjalar mencekik leher, mematikan aliran darah, dan menghentikan kerja seluruh organ. Seketika mungkin dunia gelapkah? Atau bercahaya seperti imajinasiku?
Tersadar dunia hanya kekaburan semata. Sebuah lingkaran yang dipenuhi tawa banyak makna, dipenuhi tangis penuh arti, hanya seperti miniatur sebelum menuju kehidupan kekal.
Suatu hari ketika kamu, aku, dan dia pergi , tak ada lagi cara untuk menceritakan jalan kebenaran itu.
Maka percaya adalah jalan. Dan iman padaNya seperti pegangan tangan yang membawa terus menuju tempat terakhir itu.

Senin, 24 Februari 2014

Sekilas Tentang Penantian

Karena waktu tidak akan pernah kembali, maka melupakan sesuatu yang berharga butuh sebuah keyakinan. Aku pernah menghabiskan waktu yang lama untuk menanti sesuatu. aku tahu tidak ada yang sia-sia. walau terlihat tanpa hasil, prosesnya membentukku luar biasa. setiap pilihan hidup memang tak akan semuanya mulus. Tetapi, setiap hal adalah pelajaran. Mengakhiri untuk mengunci diri dalam ruang gelap seperti mengiyakan terang datang mengetuk. ketika sesuatu yang dinanti itu memang tidak berjalan dijalanku, semuanya pada diriku akan tampak baik-baik saja. sesuatu itu dulu segalanya, tetapi sekarang tidak. aku bersyukur melakukan itu. bahkan bintang punya saat untuk redup dan berhenti berpijar, maka penantianpun mengerti waktu sudah bgitu larut. sesuatu yang disebut logika mengajarkan sesuatu. karena perasaan terkadang membodohi. walau hati adalah yang utama tapi untuk bagian ini peraturan itu dikaburkan. selama hal yang baru masih sanggup untuk mengetuk, mengapa tak dibukakan saja? untuk apa menahan kunci jika pada akhirnya akan berkarat dan tidak akan pernah menemukan kata buka. jadi, lebih baik berhenti terperangkap masa lalu, sebelum masa lalu menjerumuskankh terlalu dalam hingga tak dapat menemui jalan keluar. banyak jalan! bahkan daun kering punya pengganti di dahan yang sama. jadi sesuatu itu meninggalkan dahan, akan ada sesuatu baru yang akan tumbuh. Percaya keyakinanku sudah tepat!

Rabu, 05 Februari 2014

Di Balik Kisah Melupakan



Ngirim buat lomba, tapi gak sempat lolos. Jadi mending taro' di blog. Happy reading

"Dia terlalu sakit untuk kucintai, namun semakin sia-sia jika kuakhiri. Walau kutahu seberapa dalam pedihnya menyukai seseorang yang sudah menaruh masa depannya pada sosok lain, aku masih tak tahu cara terbaik untuk melumpuhkan ingatanku tentangnya".
Aku terpental ke sisi jalan sehabis sebuah mobil merah menabrak motorku dengan keras dari arah belakang. Kepalaku terantuk keras, dan jika bukan trauma kepala aku pasti akan amnesia.
Fiuh, sayangnya hal itu hanya sepenggal kisah khayalan bodoh. Dan faktanya akulah si bodoh yang memikirkan itu. Sampai begitu sulit melupakan seseorang maka kecelakaan adalah cara terakhir yang dapat terpikirkan oleh otakku, hanya untuk melupakan seseorang bersama kenangannya.
Pikiran itupun masih tersusun rapi dalam memoriku ketika kembang api meretaskan warna begitu indahnya di langit. Kuhabiskan malam tahun baru bersama kelima orang sahabatku di Pantai Losari. Hamparan laut menampilkan bayangan campuran warna dari bahan yang meledak itu. Langit yang tadinya gelap kini berkelap-kelip bagai lampu padam lalu nyala secara bergantian.
Berbondong orang kutahu sedang menikmati pergantian tahun, bahkan memenuhi kamera dengan memori tahun baru di videonya. Sukacita itu bertahan cukup lama hingga waktu berdentang menghabiskan satu tahun. Kupeluk lima orang disisi kanan dan kiriku membentuk lingkaran. Kuharap mereka tetap menjadi bagian hidupku hingga masa tuapun tak membuat ingatan kami satu sama lain memudar. Hanya saja semua kebahagiaan itu pudar begitu saja ketika Gian, pria yang kukagumi sudah selama 4 tahun terselip di antara ribuan manusia yang memenuhi anjungan pantai Losari. Hingga jika disuruh memilih aku harus melambai pada sosok yang kukenal itu, atau membalas daun pohon palem yang sejak tadi melambai karena semilir angin, aku memilih tumbuhan itu.
Sekilas sepertinya ia memberhentikan pula pandangannya padaku yang tepat berdiri di bawah patung. Merasakan itu, sebuah senyum ingin kulontarkan dengan canggungnya setelah 2 tahun kemarin kami tak pernah lagi bertemu seusai kelulusan SMA.
Lalu entah bagaimana melukiskan sayatan tiba-tiba ini, Gian memalingkan wajah dan seakan mengangkat setinggi pinggang genggaman tangannya yang melingkar erat di jemari seseorang. Kali itu tak ada yang menyadari kejadian memalukan tersebut, sebab kelima orang yang sejak lalu sudah menyuruhku untuk melupakan Gian sibuk memotret diri dengan background kembang api.
Sejenak aku berdiri mematung, sungguh awal tahun yang menyedihkan. Memulai detik baru dengan mata yang berkaca-kaca. Jika saja seorang berniat buruk untuk menceburkanku ke pantai yang dapat membuatku tenggelam, aku tak akan menyuruh kelima sahabatku menuntut dan memenjarakannya.
Gian pun berlalu, berjalan menyusup ke dalam kerumunan orang. Nyatanya dia tumbuh dengan cepat. Dahulu rambutnya masih tak serapi itu. Dan kini kemejanya pun menambah persepsiku pada kedewasaannya. Ah! Ada apa aku ini. Masih basah luka ini, maka seperti plester obat, kenangan bersamanya membuat luka itu hanya angin lewat yang tak dapat menembus sistem kekebalan tubuhku.
            “Heh, gak seharu itu juga kali renungin tahun berganti, ampe itu mata berlinang air mata”, kompak mereka menepuk pundakku. Oke, seperti yang mereka katakan tidak ada hal menyedihkan hingga tahun baru kujemput dengan tangisan, tetapi di balik itu semua mereka tak tahu. Seorang yang terus saja kubahas bersama mereka sejak semester 1 perkuliahan, baru saja menggores bekas dipembuka waktu.
            Waktu sudah melewati 45 menit dari jarum jam yang tadinya menyatu di pertengahan lingkaran jam. Perlahan anjungan pantai mulai sepi. Tulisan ‘City Of Makassar” mulai terlihat jelas. Bahkan untuk memalingkan pandangan pada bangunan rumah Toraja yang berada di sebelah kanan anjungan, dapat ditangkap lensa mata. Masih ada bunyi petasan satu-persatu.
            Jagung bakar yang baru setengah kami habiskan masih dalam tusukan kayu yang kami pegang erat. Sehabis kejadian tadi, untuk memakan sebiji jagung itu saja sangat sulit kerongkonganku untuk menelan. Bergilir tangan yang kutarik, namun masih tak ada yang ingin pulang ke rumah mini yang kami kontrak bersama, tidak cukup jauh jika berjalan kaki dari pantai.
            Bukan malam yang kutakuti, sebab tahun baru hanya sekali dan menikmatinya bersama udara malam itu menyegarkan. Hanya saja memandang Gian bersama sosok yang disebut masa depannya itu adalah hal mencekam yang tidak ingin kulihat. Seperti menghapus data dari memori komputer agar tak bisa dilihat lagi, maka kebalikannya aku harus tak melihat wajahnya, agar penghapusan data dari otakku itu dapat berhasil. Sebab melumpuhkan ingatan tidak semudah menabrakkan diri agar tulang dapat patah lalu lumpuh. Maka usaha ini perlu kerja keras.
            Kami kembali mengistirahatkan langkah di tembok huruf yang menghiasi Pantai Losari sehabis berdiri setahunan menikmati suasana sekeliling yang penuh macam bunyi, terompet salah satunya. Pandangan kami alihkan ke hotel mewah yang berada tepat di seberang anjungan.
            “Eh, udah pada bikin resolusi gak?”, tanya satu orang dari kami. Satu persatu mereka mulai menyebutkan resolusi , entah itu kuliah, keluarga, dan pastinya cinta.
            “Tidak ada yang berubah. Resolusiku masih sama seperti beberapa tahun lalu”, ucapku.
            “Bodoh”, hentakkan keras mendarat di kepalaku.
            “Gian kan? Berharap kamu dan dia jadi kita? Dasar pengharap kronis!”. Yah, julukan itu memang tepat buatku, yang kuherankan bagaimana membuat mereka tak berkomentar dengan ucapanku yang tidak dimengerti? Bahkan menggunakan kiasan pun, jemari halus itu masih saja menyentil kepalaku.
            “Harus seberapa sakit lagi ruangan ini, nona”, tunjuk mereka ke bagian dada kiri. Setiap hal yang mereka nasihatkan harusnya kudengar. Sayangnya, pikiran dan hati tidak akan pernah sinkron. Aku ingin lupakan, tetapi hati punya cara untuk membangkitkan kembali ingatan tentang kenangan bersama Gian menjadi bagian berharga yang sulit untuk dibuang.
            Sentilan ke kepalaku ternyata masih ingin dilakukan bagi mereka yang belum mendapat bagian, aku menjauh dengan menyampingkan tubuhku. Lalu, 2 orang itu berlalu tepat di belakang kami. Jemari yang tadinya menyatu punya tempat masing-masing. Tangan Gian di dalam kedua saku celana, sementara wanita itu sedang memegang tas.
            “Iren”, teriak itu membuat wanita di sebelah Gian menengok pada kami. Aku berbalik menatap Nina, sahabatku ini. Oh tidak, seakan bara api baru menembus wajahku. Jangan bilang kekasih Gian adalah temannya juga.
            Benar, dunia selebar daun kelor. Nina, bangkit menghampiri Iren yang kini bersama Gian menghadap ke arah kami. Remang pun tak sanggup menutupi wajah Gian dari pengenalan sahabatku yang memang biasa memerhatikan foto Gian di dunia sosial internet. Kami masing-masing saling bersalaman sambil mengenalkan diri. Aku tahu hati kelima orang disisiku ini sedang terperanjak mendengar nama pria di samping Iren. Mereka pun tampaknya sampai perpisahan akan menutup mulut untuk menanyakan Gian tentang teman sekelas di SMA dulu.
            “Gian siapa ren, pacar kamu ya?”, tanya Nina lagi. Tampak Iren masih memikirkan jawaban yang akan dilontarkan.
            “Emm, mantan pacar”, jawab Iren singkat.
            “Loh kok, balikan ya?”, Nina tampaknya bukan bertanya seakaan penasaran pada  kawan lamanya. Aku tahu dia sedang meyakinkanku untuk melupakan pria yang tepat berdiri di depanku ini. Iren tersenyum simpul dan menjelaskan perkataannya.
            “Kami akan tunangan. Bukankah Gian akan disebut tunanganku? Oh  iya, hari Minggu besok acaranya Nin”. Bara api yang tadi menembus wajahku seakan sudah menjalar dan membakar seluruh raga. Jantung yang tadinya berdegup kencang kini kurasa melelah dan melemah dengan nadi lambat. Kepala yang tadinya kutundukkan tersentak untuk menatap Gian. Tatapannya sedang memerhatikan Iren yang merogoh tasnya.
            “Ini undangannya ya, kalau bisa kalian berlima datang”, Iren menyodorkan kertas merah muda itu pada Nina. Aku mengikuti pengalihan kertas itu dari tangan ke tangan.
            “Um, aduh maaf ren. Kayaknya ada temanku yang bakal kuantar ke rumah sakit”, kupalingkan pandangan pada Nina. Apa itu semacam singgungan?
            “Oh, emang sakit apa Nin?”
            “Gak tau. Kayaknya sih penyakit hati”
            “Waw hepatitis? Liver? Semoga cepat sembuh temanmu yah. Oh yah Nin, happy new year”, sambung Iren.
            “Aku ke belakang sebentar”, ucapku tak tahan lagi. Aku berbalik dengan langkah terseok bermaksud cepat menjauh. Tak menyadari kehadiran benda kecil di depan kakiku. Dengan memalukan aku tersandung dan lututku terantuk hebat ke lantai keras anjungan. Aku menyesal tidak memakai celana jeans tadinya, hingga rok selutut yang kukenakan tidak mampu menjaga lututku dari luka yang disebabkan benda kecil itu.
            “Hel”, mereka teriak bersamaan. Air mataku seakan menembus bendungan yang sejak tadi terus saja diguyur hujan hingga penuh dan tak mampu lagi untuk menampung air. Isakanku semakin keras ketika Gian yang pertama bergerak untuk memapah, menarik lenganku agar dapat berdiri. Kuambil lenganku yang dipegangnya dan tetap berlutut. Linangan bening itu sudah melewati pipiku dan berjuta-juta temannya mengikuti. Masing-masing jemariku menutupi kedua mata yang semakin basah. Kuusap terus namun masih juga terjatuh. Gian menunduk, lalu jongkok di depanku.
            “Kamu kenapa, Helen?”, pertanyaan itu seperti anak kecil yang bertanya bodoh. Aku sungguh geram padanya kali ini. Seperti sulap yang mencederai otakku, kenangan indah bersamanya melonjak hingga tiba di titik kebencian tempat otakku menaruhnya.
            “Maaf, len. Ini bukan kemauanku. Berhentilah untuk 4 tahun itu”, ucapnya sambil mengusap darah lukaku dengan sapu tangan yang Gian ambil dari saku celana. Aku memegang lututku yang habis dibersihkannya. Tak tahu mengapa saat itu Iren, Nina, dan lainnya tak mnghampiri kami sampai jemari Gian menghapus air mataku yang terus tumpah. Aku bangkit setelah menjauhkan tangannya dari pipiku. Langkah yang terseok ditambah kepincangan kuharap tak membuat mereka tertawa.
            Selang beberapa menit, aku tidak berjalan sendiri lagi. Kedua lenganku ditopang lima orang yang tahu benar suasana hatiku saat ini.
            “Maafin kami hel, datang telat”, perkataan yang ingin kusanggah masih tak mampu kubalas. Isakanku hanya pengisi pita suaraku yang bergetar.
            Terkadang menangis adalah kesejukan yang kudapati dalam musim panas. Seperti aliran air yang deras dalam kekeringan. Walau terlihat menyedihkan, namun semuanya akan terobati sehabis itu. Kuharap ini yang terakhir. Menangisi keadaan dan inilah puncaknya. Menghapus ingatan dengan air mata akan mengubah persepsi otakku untuk berhenti berharap. Apakah memang hati yang patah penakluk segala kenangan indah? Aku tak dapat menyambungkan patahan itu sampai ingatan tentang Gian benar-benar habis terbawa masa lalu.
            Keringanan berjalan itu kurasakan hingga kami sampai di teras rumah. Mereka mendudukkanku lalu mengambil peralatan untuk luka. Pipiku kering, sepertinya air mata itu habis.
            “Mau diobatin yang mana ni hel, lutut atau hati?”
            “Huss, kamu ini. Temennya lagi sengsara malah diejekin”
            “Sengsara nelangsa”
            “Bener-bener yah, mulut kalian ini”   
            “Kita kan cuman pengen menghibur yak”. Kejahilan mereka memang sanggup menggores senyum. Aku tahu luka ini akan lama sembuh tetapi sisi positifnya, aku tidak perlu memaksa diri untuk mengalami kecelakaan. Walau akan menimbulkan bekas, toh lebih baik daripada lukanya terus terbuka.
            Waktu hampir tiba di pukul 3. Tempat tidurku yang awalnya hanya dapat menampung 3 orang, dimaksimalkan dengan kehadiran 5 orang ini. Tak perduli sempit, pelukan mereka cukup menenangkanku.
            Kami menengadah ke langit-langit kamar. Membahas pribadi masing-masing beserta kesalahan-kesalahan ditahun lalu.
            “Kesalahanku adalah menyukai seseorang yang memang tidak diciptakan untukku”, ucapku saat mendapat giliran berbicara.
            “Udahlah hel, hal yang gak perlu disesalin. Pengalaman itu gak selamanya indah, harus ada air mata untuk mengerti betapa hidup butuh perjuangan.”
            “Aku pernah denger, kalau setiap cerita itu selalu berakhir bahagia, kalau belum bahagia maka itu bukan akhir”
            “Sotoy!!”, bahkan untuk berceramah dengan kata-kata orang, para sahabatku ini masih membagi-bagi jitakan pada kepala. Namun, aku bersyukur kehadiran, kelucuan kejahilan, dan keblak-blakan mereka adalah unsur penting dari usahaku untuk melupakan Gian. Ketika matahari terbenam mereka akan terus seperti itu, tidak ada yang berubah. Aku bersyukur memiliki mereka.
            “Jadi, hel, hari Minggu kita ke rumah sakit?”, tanya Nina. Semua pandangan kini teralihkan pada Nina yang sudah melindungi diri dengan selimut tebal, mengetahui kami akan menyerbunya. Malam tahun baru yang tadinya berantakan kini berusaha dirapikan oleh sahabat-sahabatku.
            “Terima kasih”, ucapku lirih pada mereka.

“Aku pernah meminta pada Tuhan agar dapat bersamanya. Tetapi sekarang aku berdoa untuk bersyukur dan meminta agar dia dapat bahagia bersama yang lain sebab aku tahu kebahagiaanku adalah bukan bersamanya. Maka bahagia adalah ketika melepasnya untuk dilupakan”