Pages

Senin, 31 Desember 2018

Selamat Tahun Baru dari Kami; Pejuang Bencana



     Akhir Juli 2018, embun pagi yang biasa menyapa Pulau Lombok sirna begitu saja. Surya terbit di hulu laut hijau biru jernih menjadi saksi sejarah. Dunia seketika diisi oleh teriakan histeris. Berbagai  jenis suara merasuk di telinga, katanya; gempa! gempa! Manusia yang biasanya terikat rutinitas hidup ikut terperanjak mengalami guncangan alam di pulau ini. Dikiranya ini vertigo saja. Jadi dunia berputar, tanah retak, alam berguncang sekiranya khayalan saja. Ternyata tidak! Tak lama seluruh stasiun Tv menyiarkan ratusan jasad yang tertimbun, isak tangis karena kehilangan ribu jiwa dan ratusan ribu bangunan yang katanya disayangkan runtuh begitu saja setelah dibangun dengan susah payah oleh keringat dan materi. Kemudian seolah rindu yang tak berujung, awal Agustus, Lombok terguncang lagi. Tak seperti sebelumnya, apalagi yang ingin ia hancurkan setelah semua hanya tinggal puing.

Akhir September, laut menggulung seisi kota Palu Donggala yang dilaluinya. Ombak keras itu menghantam dan menghancurkan mobil mewah, pusat hiburan dan perbelanjaan, bahkan gempa membagi dua dataran.  Pesta yang digelar dipesisir pantai seperti makanan empuk yang dihempas tsunami begitu saja. 2 ribu jiwa terenggut, 4 ribu terluka, dan kota terpukul rata bahkan bergeser dari titik awalnya.

Akhir Oktober, awalnya kondisi penerbangan naik turun. Doa-doa pada Sang Pencipta terdengar sangat kuat dari dalam besi terbang. Penuh pengharapan dalam ketakutan mendalam. Ratusan manusia sempat mengudara selama 13 menit lalu akhirnya kabar yang tersiar menusuk hati, mengetahui pesawat menghantam perairan Tanjung Karawang. Entah mengapa seolah membenarkan sesuatu yang terbang tinggi memang harus pergi dengan caranya.

Akhir tahun, 8 hari menuju pergantian tahun. Desember kala itu Selat Sunda ikut menghantam Lampung. Jika saja ini fantasi, manusia mungkin sudah mengutuk kerajaan Atlantis atau mulai mencari-cari rumah Aquaman atau bahkan menemukan Ratu Mera agar mengendalikan sang tuan Tsunami. Kenyataanya tsunami benar terjadi bakal dari anak Krakatau. Siapa pula penghuni Krakatau? Avatar sang penguasa api?

Entah bagaimana manusia mengaitkan dengan takhayul, yang jelas alam punya cerita sendiri. Januari hingga Juni cukup menggetarkan Jawa, Sulawesi, Sumatera dengan banjir serta longsor. Akhir dari segalanya kita pun mengerti semua hal fana.

Di awal langkah 2019, manusia sedang merenung. Disatu atap sedang merenung resolusi, disatu pondok sedang merenung nasib pengungsi, disatu tempat sedang merenung kehilangan-kehilangan, disatu hati sedang merenung kejadian-kejadian 2018. Satu yang sama, hari esok tetap akan hadir dan harapan terus ada.

Dunia bukannya sedang sibuk dengan urusannya sendiri, hanya perlu dibuat peka saja. Bagi anak muda, media sosial bukanlah dewa yang patut disembah hingga lupa diri, lupa waktu, dan lupa keberadaan. Bagi anak yang bertumbuh, orang tua adalah orang pertama yang berkorban demi menyukseskan hidupmu, jadi berhenti melukai hati dengan sikap arogan. Bagi jiwa tua, berhenti berlaku paling benar karena mendengar juga termasuk kebijaksanaan.

Jadi akhir dari segalanya, salam dari kami sang pejuang bencana yang ternyata dibuat lebih cepat menyadari, bahwa kehidupan itu terkadang terjadi tak sesuai yang manusia inginkan. Hingga suatu kali bencana dahsyat itu meruntuhkan segala pertahanan manusia yang terbangun untuk kembali menggantungkan diri pada Sang Pemilik kehidupan. – Selamat Tahun Baru, 2019.

Jumat, 28 Desember 2018

Kali Pertama


Hari itu lintasan orbitmu mulai berputar disekelilingku. Kurasakan seberapa besar kamu berjuang membuka kuncinya.
Hari itu, kali pertama kubuka pintu lintasan tak lupa mengaitkan batasan.

Waktu itu kamu berlagak mengerti dan bersedia hadir disetiap waktu. Kamu lalu menjadi sumber kebahagiaan tanpa kusangka. Kubangun rumah dalam hati itu. Setidaknya aku bisa pulang kesana jikalau perlu.
Waktu itu, kali pertama kugantungkan hidup pada manusia lain sambil mempelajari kesendirian.

Hari itu kamu mengutuk kutipan buku yang kutunjukkan. Berpikir seolah kamu terpinggirkan; oleh karena salah memahami isi bacaannya.
Hari itu,  kali pertama aku berhenti membaca buku yang awalnya kusukai.

Minggu itu, Kita bak ombak. Naik turun tapi tak mencapai pesisir. Kita tidak pernah sampai di hulu. Bak dua insan yang terapung mengikut arus.
Minggu itu, kali pertama aku melepas keyakinan untuk bisa bersama.

Malam itu, air langit tumpah dengan derasnya, kita saling meneguhkan hati utk saling mundur dan sling pergi.
Malam itu,  kali pertama aku mengumpat mengapa hujan mesti turun di malam itu. Padahal sebelumnya hujan itu canduku.

Seberapa besar yang sudah kuhilangkan demi memunculkan kamu? Padahal kita tidak benar-benar kita. Kita memang hanya sesuatu yang terlanjur karena waktu. Kenyatanyaannya takdir membawa kita hanya sebatas saling mempelajari dan tidak lebih.

Tujuan itu tidak pernah setitik. Jadi seberapa jauh pun melangkah bersama akan ada dua jalur yang tercipta.

Pada hari terakhir kita saling menatap, semesta sedang mengulur dua ujung yang terlanjur dekat agar bisa berjauhan. Akhirnya, kali pertama kutahu, kita ternyata ditakdirkan seperti itu.