Pages

Rabu, 18 Maret 2015

Tak Sepihak Namun Tak Terbalas


SYILA
Kerumunan orang telah berpencar. Ruangan yang sempat kutinggalkan kini menyisahkan kekosongan. Aku kembali memutar langkah. Berjalan masuk dan duduk di pertengahan ratusan deretan bangku. Keriuhan luntur memulai sepi. Heningnya sekeliling tetap saja tidak membantu. Dia yang harusnya dapat kutatap, menghilang begitu saja. Kali ini tetap saja tak nampak. Kupastikan saat dia menyukaiku, Arya tak mungkin setidak perduli ini. Sungguh! Memiliki rasa secara sepihak sebanding dengan lelahnya penantian dalam bungkam.
Faktanya, Arya tidak kembali mencariku seperti yang kulakukan saat ini. Kutatap layar handphone berkali-kali. Bukan melihat pesan yang masuk atau pemberitahuan media sosial lainnya. Hanya satu yang kulakukan. Bercermin! Seolah menemukan harta terindah. Aku tak ingin menyia-nyiakannya. Sejak tahun berapa aku lulus SMA? Ah, malas menghitungnya. Hanya saja aku menyukainya hingga kini menginjak semester 6 perkuliahan. Sejujurnya itu terlalu lama. Cukup tragis jika menghitung cinta terpendam pada waktu yang tak berujung. Si setia sibuk menanti. Si pejuang masih bertahan. Si bodoh masih tetap memilihmu. Ketiga julukan itu cukup melekat erat padaku.
Pada lubuk hati terdalam, kuterka rasa ini akan terbalas. Aku duduk menunggu manakala Arya datang dan menanyakan kabarku. Atau segenggam tangan hangat meremas jemariku. Lalu bangku di sebelahku terisi dan menghabiskan waktu dengan menceritakan tahun-tahun perpisahan yang tak pernah memberi kabar. Hingga pada akhirnya aku dan Arya bercerita tentang kisah dua hati yang saling memperhatikan saat masih berpakaiaan putih abu. Dengan penuh sukacita diakhiri pada pengakuan cinta.
Tiba-tiba saja sosok berjaket tebal datang merampas handphone dari genggamanku. Khayalan indah tadi seolah tidak disetujui dunia sampai merusaknya dengan pembegalan ini. Aku berlari mengejar langkah panjang itu.
“Hei!!!” Seluruh dunia seolah tampak menjauh dan hanya aku yang berlari mengejarnya. Tas kotak kecil mengayun kencang di pinggangku. Tetapi tidak ada yang mengalahkan lajunya jantungku saat ini.
Pria tinggi itu berlari ke toilet. Aku terhenti, sambil mengumpat dalam hati. Sebenarnya aku berbangga pada kata sandi yang kutanamkan pada handphoneku. Yang harus kulakukan hanya menunggu. Sepertinya, memang aku ditakdirkan untuk menunggu.
Sekitar sepuluh orang telah melewatiku dalam setengah jam yang berlalu. Aku memberanikan diri masuk pada tempat yang bukan kodratku. Ruangan asing itu kuputari dan melihat handphone yang tergeletak dalam tong sampah. Tepat di atas sebuah topi. Apa yang lebih menjengkelkan dari hal itu! Bahkan parahnya satu pintu WC tiba-tiba berbunyi dan seolah akan dibuka. Aku cepat menunduk menyembunyikan wajahku karena tak bisa menghindar. Sepatu kets abu melewatiku dan langsung berjalan keluar. Aku bernapas lega. Ketika kusadari yang terjadi, rasanya seperti keadaan mendukungku untuk tidak menunggu sebuah cinta yang tidak pernah terbalas. Terdengar kasihan, bukan?
 Saat dimana aku mendengar orang mengatakan, “Mereka adalah pasangan paling beruntung karena saling menemukan satu sama yang lainnya” kini hanya sebuah khayalan yang hanya terus menjadi mimpi. Satu sisi aku takut memikirkan bayangan kita yang pada akhirnya hanya berjalan di cerita hidup yang berbeda. Namun disisi lain aku menanti saat dimana melihat wajah Arya dan tidak ada kecanggungan lagi yang terjadi padaku. Lalu mengakhiri semua kesakitan sebelah pihak ini.

ARYA
“Si pengecut ini apa yang lu lakuin!!!” Aku membuang topi usai mengumpat pantulan sosok bodoh itu di depan cermin.
Apakah aku mengerti tentang sakit hati, hingga berani membuatnya merasakan hal itu? Hari ini aku pikir akan indah. Bertemu dengannya dalam sebuah acara. Sayang tidak seperti yang kubayangkan. Dia telah berbeda dan aku tetap sama. Terakhir kali melihat wajahnya pada kelulusan SMA. Sekarang tampakan culunnya telah berubah. Aku pernah berpikir apakah dia berubah karena masih menyukaiku? Ia, Syila terlihat dewasa dan cantik. Satu yang paling kukagumi adalah keberaniannya yang masih melekat.
Aku duduk tiga baris di belakang bangkunya pada saat acara malam itu berlangsung. Awalnya sempat berpikir. Rambut hitam panjang di antara celah-celah orang duduk ini, apakah benar Syila? Dia mungkin menyadari keberadaanku namun tidak juga berani memulai untuk menyapa. Aku tahu sejak SMA, dia tidak seperti yang lain. Karena sebuah rasa, kami terlibat kecanggungan. Dari pihakku yang seharusnya memulai malah berdiam menunggunya berhenti. Berhenti menyimpan rasa untuk empat tahun. Sampai sekarang aku masih berpura-pura tidak tahu tentang perasaannya. Tanpa sepengetahuannya aku bahkan telah tahu ia sedang memendam rasa. Namun seolah keraguan menyelimuti, aku tidak ingin mengatakan padanya perasaan yang sama. Setelah beberapa tahun aku telah melihat ke sosok wanita lain untuk beberapa kali dan dia mungkin tak pernah. Syila mungkin menyukaiku tetapi tak sebesar yang kutahu.
Diakhir acara, dia berbalik. Bukan ke arahku! Dia pergi ke sudut terbelakang gedung. Mungkin berkaca di toilet atau membuang hasil kedinginan AC. Aku tak tahu. Yang kutahu wajah itu mengingatkanku pada gadis SMA yang selalu kulihat setiap hari di sekolah.
Dilema besar mengusik jiwaku. Apakah hari ini harus berakhir seperti ini? Pura-pura tak saling melihat keberadaan lalu pulang dengan kesesakan. Haisss! Jarak karena sebuah rasa ini membuatku bersifat cuek yang berlebihan.
Pada kerumunan orang yang meninggalkan ruangan acara aku menatapnya dari sudut yang ia tak sadari. Syila terlihat celingak-celinguk. Mungkin benar dia masih menungguku. Namun yang terjadi aku masih saja tak ingin memulai. Padahal terlihat jelas rasa diantara kita berdua. Hingga akhirnya aku menyesal sejadi-jadinya membiarkan dia pergi.
Aku bersandar di sudut terbelakang ruangan. Tidak lama, wanita yang sejujurnya kunanti, berjalan masuk dan duduk agak jauh di hadapanku. Jarak yang tercipta seolah membunuhku sebab tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan jika itu hanya menyapa. Namun, benar-benar menyenangkan menatapnya merapikan rambut, alis, bibir, dan bulu matanya di depan layar handphone. Walaupun sangat mengganggu melihat wajah pria di wallpapernya dari kejauhan titik pandangku.
            “Dasar bodoh kenapa menungguku selama itu, aku gak akan datang juga”. Aku menggeleng usai menyadari Syila yang belum juga beranjak dari tempat itu. Setengah jam lagi menunjuk angka 11 dan ia masih bertahan. Mungkin ini yang disebut gengsi pria. Aku heran membaca sebuah quote yang menyebutkan,
 “Ketika kamu berpikir lelaki itu tidak menyukaimu, maka itu mungkin benar. Sebab seseorang yang benar-benar menyukaimu tentu akan berusaha memberitahumu tentang perasaannya”. Ha! Omong kosong. Aku pastikan beberapa pria dapat terdiam di tempatnya. Kaku, bahkan tak bisa bergerak ketika berada di dekat wanita yang disukainya. Lelaki pun tahu apa itu salah tingkah.
Aku mendekat setelah menutupi kemejaku yang mungkin sempat dilihatnya, dengan jaket hitam. Topi yang baru saja kubeli sebelum tiba di acara launching buku hari ini telah melekat di kepalaku. Dan… senyumnya! Langkahku hampir terhenti di sisi kursi saat mulai mendekatinya. Hanya saja yang aku herankan, bisa-bisanya wanita di hadapanku melamun di larut malam seperti ini? Beruntung hanya aku yang berpura jadi perampok. Syila… benar-benar! Serasa aku ingin mengatakan padanya berhenti menyukai dan menunggu pria sepertiku. Bersanding dengannya pun aku tak pantas. Bahkan membalas perasaannya kurasa sebuah kesalahan. Mohon baliklah keadaan. Akulah yang memiliki rasa sepihak. Bukan Syila.
***
            Jika ketahuan maka mungkin kali ini aku harus menembaknya. Beruntung aku terselamatkan di ruangan yang tidak bisa dimasukinya walau seberani apapun sosok Syila. Aku cepat menyalakan handphone itu. Aku bahkan tidak memperdulikan harga topi yang kubuang setelah menyadari Syila memakai kata sandi. Bukankah lucu mencuri handphone wanitamu hanya untuk melihat foto lelaki yang ia jadikan wallpaper? Apalagi jika kamu menyangka ia telah berpaling ke pria lain. Tetapi ternyata yang kamu dapati, fotomulah yang ia taruh di layar utama handphonenya?
            Aku bernapas lega. Membuang benda itu dan mengunci diri dalam satu ruangan toilet.
            “Dasar pencuri aneh!” aku mendengar suara Syila dan berpura mengancamnya dengan suara pintu. Dan beruntung saja wanita yang benar-benar kusukai secara diam-diam itu tahu cara menghindar tanpa berlari. Bukankah itu cara terbaru mengusir seseorang yang berdiam di tempat yang tidak seharusnya?
            Dunia tahu betapa membingungkan kisah di antara kita. Akupun menyadarinya. Bahkan yang lebih membingungkan aku tak bisa melepasnya.


#MyLoveStoryQuiz
Terinspirasi dari lagu Taylor Swift - The Story Of Us


I used to think one day we'd tell the story of us
How we met and the sparks flew instantly
People would say "They're the lucky ones"
I used to know my place was a spot next to you
Now I'm searching the room for an empty seat
'Cause lately I don't even know what page you're on


.......
Now I'm standing alone in a crowded room and we're not speaking
And I'm dying to know is it killing you like it's killing me, yeah
I don't know what to say, since the twist of fate when it all broke down
And the story of us looks a lot like a tragedy now
 
#MyLoveStoryQuiz
#MyLoveStoryQuiz

Selasa, 11 November 2014

Pengagum Bayang

Cerita mini ini sebenarnya pernah dikirim ke koran Fajar, pernah dapat telfon dari redaksi tentang rencana
pemuatan. Tapi sayangnya dokumentasi tidak saya dapatkan karena gak dapat korannya :) . Dimuat disini aja.. Happy reading 
 
 Mengagumi tidaklah menyesakkan, sebab yang kutahu ini indah. Seindah langit senja yang terus dipandanginya dari tepi pantai. Aku berdiri tak jauh di belakang, menatap bayang wanita pengagum senja ini tanpa lelah. Angin petang membawa rambut sebahunya melambai tak beraturan. Sebagai pria yang tak dikenal, aku leluasa memandanginya. Mengagumi bayang dengan mudah adalah caraku menikmati senja.
Setiap sore ia pasti akan datang. Dengan cara yang sama, berdiri tegak, mengangkat sedikit dagunya, dan menatap lurus ke surya yang akan tenggelam. Mungkin baginya kemerahan coklat di langit itu adalah permata terindah. Hinga pandangannya tidak pernah menengok ke kiri atau kanan. Ia hanya berteman dengan ombak pantai.
 Aku menatap dari kaca kafe tepat di seberang jalan. Setiap kemunculannya, cafe selalu kehilangan manajer. Sebab, aku pasti berlari mendekat. Walau tak sedekat dapat menjulurkan jemari.
Ketika laut menelan habis potongan matahari yang remang itu, selalu saja seorang pria datang menjemput. Dengan mobil putih ia membukakannya pintu. Entah telah terikat janji suci atau belum, yang jelas mereka terlihat begitu dekat. Hal itu pun yang membuat naluri keberanianku menurun. Bahkan untuk berkenalan sekalipun aku tidak pernah mencoba memulainya. Wanita berlesung pipi itu hanya dapat kupandangi saat mendekati senja. Setelah itu, malam dan prianya seolah melarangku untuk  menikmati paras ayu itu.
 Satu kali, aku dibuatnya cemas tak terkira. Malam hampir larut namun pria yang selalu menjemputnya belum juga nampak. Isi cafe semakin penuh dan aku sesekali berhenti di depan meja penikmat kopi memandangi kesendiriannya dari jauh.
“Apa dia masih menunggu?” Pria mobil putih itu membuatku geram. Lama, dan waktu terus berjalan, aku tak tahan lagi. Kulepas mampan yang kupegang sejak cafe ramai dan berjalan ke tepi pantai yang gelap. Tanpa berkata banyak kutarik ia hingga berbalik membelakangi angin pantai yang semakin dingin. Wanita ini tidak mengamuk. Tangannya kupegang semakin erat menjauhi pantai. Ini kali pertama bayangannya berjalan disebelahku. Biasanya hanya diam di hadapanku, sebatas kupandangi.
"Quila, maaf. Maaf! Kakak habis dapat kecelakaan di jalan, jadi terlambat ngejemput kamu..." Ucapan itu mengakhiri kisah indah yang baru saja kualami. Kulepas tangan wanita yang baru kutahu namanya itu di ujung jalan. Kakaknya melontarkan senyum sambil berterima kasih. Sementara Quila diam dengan senyum termanis walau sayang sedang melihat ke arah lain. Memandang kosong ke arah lain! Apakah dia ?
Pria itu menuntun Quila dengan hati-hati hingga menunjukkan arah mobil dengan jelas. Aku berdiri tak jauh dari mereka. Tiba-tiba jantungku berdetak dengan cepat seusai menyelami fakta yang kudapati. Akhirnya, kutahan kakaknya yang berjalan menuju kursi kemudi.
"Quila?" tanyaku gentar sambil menunjuk ragu ke mata. Kakaknya mengangguk dan berjalan pergi. Mobil beranjak, dan aku terdiam di bawah langit malam bersama bayanganku. Seolah jantungku hampir berhenti seusai mengetahui Quila tidak bisa melihat. Kutegaskan hatiku bahwa wanita yang mengalihkan seluruh duniaku itu tidak bisa melihat senja.
Sore yang sama, Quila kembali. Baju putih yang dikenakan membuatnya tidak kekurangan sesuatupun dari apa yang dimiliki seorang wanita. Aku mendekat. Mengucapkan kata yang membuatnya tersenyum.
“Terima kasih,” ucapnya lirih. Dalam gelap itu dia ternyata menyadari sosokku yang hadir setiap petang. Langit senja yang kupikir dinikmatinya, ternyata hanyalah kekosongan. Aku semakin mengaguminya ketika tahu ia tetap berdiri tegak dalam kekurangan. Tetap bercahaya dalam kegelapan. Tetap menawan dalam kesederhanaan. Kali ini aku tidak berdiri di belakang bayang wanita senja ini, sebab yang terjadi kami menikmati keindahaan ciptaan Tuhan itu bersama-sama. Bahkan seolah kukirimkan indah yang kutatap mataku ini menuju hatinya yang bersukacita walau tidak mampu lagi menatap dunia. Dia membuatku menjadi pengagum yang istimewa.