Suatu saat ketika hari berakhir. Adakah sesuatu yang mesti tersampaikan. Masing-masing punya waktu. Walau memikirkan hal itu begitu duka, aku satu diantara semua ciptaan tidak ingin pergi tanpa meninggalkan senyum di wajah mereka. Satu waktu yang berhenti. Tak ada lagi yang dapat tersentuh. Maka meninggalkan jejak tulisan adalah tepat.
Hidup dalam panggilan. Tujuan hidup untukNya. Walau setiap orang tahu mereka akan mati, tetapi manusia seolah hidup tak akan pernah mati.
Aku beruntung. Terpilih untuk mengenalNya. Juruselamat.
Bagaimana dunia setelah ini?
Ketika rasa sakit raga menjalar mencekik leher, mematikan aliran darah, dan menghentikan kerja seluruh organ. Seketika mungkin dunia gelapkah? Atau bercahaya seperti imajinasiku?
Tersadar dunia hanya kekaburan semata. Sebuah lingkaran yang dipenuhi tawa banyak makna, dipenuhi tangis penuh arti, hanya seperti miniatur sebelum menuju kehidupan kekal.
Suatu hari ketika kamu, aku, dan dia pergi , tak ada lagi cara untuk menceritakan jalan kebenaran itu.
Maka percaya adalah jalan. Dan iman padaNya seperti pegangan tangan yang membawa terus menuju tempat terakhir itu.
Kamis, 27 Februari 2014
Senin, 24 Februari 2014
Sekilas Tentang Penantian
Karena waktu tidak akan pernah kembali, maka melupakan sesuatu yang berharga butuh sebuah keyakinan. Aku pernah menghabiskan waktu yang lama untuk menanti sesuatu. aku tahu tidak ada yang sia-sia. walau terlihat tanpa hasil, prosesnya membentukku luar biasa. setiap pilihan hidup memang tak akan semuanya mulus. Tetapi, setiap hal adalah pelajaran. Mengakhiri untuk mengunci diri dalam ruang gelap seperti mengiyakan terang datang mengetuk. ketika sesuatu yang dinanti itu memang tidak berjalan dijalanku, semuanya pada diriku akan tampak baik-baik saja. sesuatu itu dulu segalanya, tetapi sekarang tidak. aku bersyukur melakukan itu. bahkan bintang punya saat untuk redup dan berhenti berpijar, maka penantianpun mengerti waktu sudah bgitu larut. sesuatu yang disebut logika mengajarkan sesuatu. karena perasaan terkadang membodohi. walau hati adalah yang utama tapi untuk bagian ini peraturan itu dikaburkan. selama hal yang baru masih sanggup untuk mengetuk, mengapa tak dibukakan saja? untuk apa menahan kunci jika pada akhirnya akan berkarat dan tidak akan pernah menemukan kata buka. jadi, lebih baik berhenti terperangkap masa lalu, sebelum masa lalu menjerumuskankh terlalu dalam hingga tak dapat menemui jalan keluar. banyak jalan! bahkan daun kering punya pengganti di dahan yang sama. jadi sesuatu itu meninggalkan dahan, akan ada sesuatu baru yang akan tumbuh. Percaya keyakinanku sudah tepat!
Rabu, 05 Februari 2014
Di Balik Kisah Melupakan
Ngirim buat lomba, tapi gak sempat lolos. Jadi mending taro' di blog. Happy reading
"Dia terlalu sakit untuk kucintai, namun semakin sia-sia jika kuakhiri.
Walau kutahu seberapa dalam pedihnya menyukai seseorang yang sudah menaruh masa
depannya pada sosok lain, aku masih tak tahu cara terbaik untuk melumpuhkan ingatanku
tentangnya".
Aku terpental ke sisi jalan sehabis
sebuah mobil merah menabrak motorku dengan keras dari arah belakang. Kepalaku
terantuk keras, dan jika bukan trauma kepala aku pasti akan amnesia.
Fiuh, sayangnya hal itu hanya
sepenggal kisah khayalan bodoh. Dan faktanya akulah si bodoh yang memikirkan
itu. Sampai begitu sulit melupakan seseorang maka kecelakaan adalah cara
terakhir yang dapat terpikirkan oleh otakku, hanya untuk melupakan seseorang
bersama kenangannya.
Pikiran itupun masih tersusun rapi
dalam memoriku ketika kembang api meretaskan warna begitu indahnya di langit.
Kuhabiskan malam tahun baru bersama kelima orang sahabatku di Pantai Losari.
Hamparan laut menampilkan bayangan campuran warna dari bahan yang meledak itu.
Langit yang tadinya gelap kini berkelap-kelip bagai lampu padam lalu nyala
secara bergantian.
Berbondong orang kutahu sedang
menikmati pergantian tahun, bahkan memenuhi kamera dengan memori tahun baru di
videonya. Sukacita itu bertahan cukup lama hingga waktu berdentang menghabiskan
satu tahun. Kupeluk lima orang disisi kanan dan kiriku membentuk lingkaran.
Kuharap mereka tetap menjadi bagian hidupku hingga masa tuapun tak membuat
ingatan kami satu sama lain memudar. Hanya saja semua kebahagiaan itu pudar
begitu saja ketika Gian, pria yang kukagumi sudah selama 4 tahun terselip di
antara ribuan manusia yang memenuhi anjungan pantai Losari. Hingga jika disuruh
memilih aku harus melambai pada sosok yang kukenal itu, atau membalas daun
pohon palem yang sejak tadi melambai karena semilir angin, aku memilih tumbuhan
itu.
Sekilas sepertinya ia memberhentikan
pula pandangannya padaku yang tepat berdiri di bawah patung. Merasakan itu,
sebuah senyum ingin kulontarkan dengan canggungnya setelah 2 tahun kemarin kami
tak pernah lagi bertemu seusai kelulusan SMA.
Lalu entah bagaimana melukiskan
sayatan tiba-tiba ini, Gian memalingkan wajah dan seakan mengangkat setinggi
pinggang genggaman tangannya yang melingkar erat di jemari seseorang. Kali itu
tak ada yang menyadari kejadian memalukan tersebut, sebab kelima orang yang
sejak lalu sudah menyuruhku untuk melupakan Gian sibuk memotret diri dengan background kembang api.
Sejenak aku berdiri mematung, sungguh
awal tahun yang menyedihkan. Memulai detik baru dengan mata yang berkaca-kaca.
Jika saja seorang berniat buruk untuk menceburkanku ke pantai yang dapat
membuatku tenggelam, aku tak akan menyuruh kelima sahabatku menuntut dan
memenjarakannya.
Gian pun berlalu, berjalan menyusup
ke dalam kerumunan orang. Nyatanya dia tumbuh dengan cepat. Dahulu rambutnya
masih tak serapi itu. Dan kini kemejanya pun menambah persepsiku pada
kedewasaannya. Ah! Ada apa aku ini. Masih basah luka ini, maka seperti plester obat,
kenangan bersamanya membuat luka itu hanya angin lewat yang tak dapat menembus
sistem kekebalan tubuhku.
“Heh, gak
seharu itu juga kali renungin tahun berganti, ampe itu mata berlinang air
mata”, kompak mereka menepuk pundakku. Oke, seperti yang mereka katakan tidak
ada hal menyedihkan hingga tahun baru kujemput dengan tangisan, tetapi di balik
itu semua mereka tak tahu. Seorang yang terus saja kubahas bersama mereka sejak
semester 1 perkuliahan, baru saja menggores bekas dipembuka waktu.
Waktu sudah
melewati 45 menit dari jarum jam yang tadinya menyatu di pertengahan lingkaran
jam. Perlahan anjungan pantai mulai sepi. Tulisan ‘City Of Makassar” mulai terlihat
jelas. Bahkan untuk memalingkan pandangan pada bangunan rumah Toraja yang
berada di sebelah kanan anjungan, dapat ditangkap lensa mata. Masih ada bunyi
petasan satu-persatu.
Jagung bakar
yang baru setengah kami habiskan masih dalam tusukan kayu yang kami pegang
erat. Sehabis kejadian tadi, untuk memakan sebiji jagung itu saja sangat sulit kerongkonganku
untuk menelan. Bergilir tangan yang kutarik, namun masih tak ada yang ingin
pulang ke rumah mini yang kami kontrak bersama, tidak cukup jauh jika berjalan
kaki dari pantai.
Bukan malam
yang kutakuti, sebab tahun baru hanya sekali dan menikmatinya bersama udara
malam itu menyegarkan. Hanya saja memandang Gian bersama sosok yang disebut
masa depannya itu adalah hal mencekam yang tidak ingin kulihat. Seperti
menghapus data dari memori komputer agar tak bisa dilihat lagi, maka
kebalikannya aku harus tak melihat wajahnya, agar penghapusan data dari otakku
itu dapat berhasil. Sebab melumpuhkan ingatan tidak semudah menabrakkan diri
agar tulang dapat patah lalu lumpuh. Maka usaha ini perlu kerja keras.
Kami kembali
mengistirahatkan langkah di tembok huruf yang menghiasi Pantai Losari sehabis
berdiri setahunan menikmati suasana sekeliling yang penuh macam bunyi, terompet
salah satunya. Pandangan kami alihkan ke hotel mewah yang berada tepat di
seberang anjungan.
“Eh, udah
pada bikin resolusi gak?”, tanya satu orang dari kami. Satu persatu mereka
mulai menyebutkan resolusi , entah itu kuliah, keluarga, dan pastinya cinta.
“Tidak ada
yang berubah. Resolusiku masih sama seperti beberapa tahun lalu”, ucapku.
“Bodoh”,
hentakkan keras mendarat di kepalaku.
“Gian kan?
Berharap kamu dan dia jadi kita? Dasar pengharap kronis!”. Yah, julukan itu
memang tepat buatku, yang kuherankan bagaimana membuat mereka tak berkomentar
dengan ucapanku yang tidak dimengerti? Bahkan menggunakan kiasan pun, jemari
halus itu masih saja menyentil kepalaku.
“Harus
seberapa sakit lagi ruangan ini, nona”, tunjuk mereka ke bagian dada kiri.
Setiap hal yang mereka nasihatkan harusnya kudengar. Sayangnya, pikiran dan
hati tidak akan pernah sinkron. Aku ingin lupakan, tetapi hati punya cara untuk
membangkitkan kembali ingatan tentang kenangan bersama Gian menjadi bagian
berharga yang sulit untuk dibuang.
Sentilan ke
kepalaku ternyata masih ingin dilakukan bagi mereka yang belum mendapat bagian,
aku menjauh dengan menyampingkan tubuhku. Lalu, 2 orang itu berlalu tepat di
belakang kami. Jemari yang tadinya menyatu punya tempat masing-masing. Tangan
Gian di dalam kedua saku celana, sementara wanita itu sedang memegang tas.
“Iren”,
teriak itu membuat wanita di sebelah Gian menengok pada kami. Aku berbalik
menatap Nina, sahabatku ini. Oh tidak, seakan bara api baru menembus wajahku.
Jangan bilang kekasih Gian adalah temannya juga.
Benar, dunia
selebar daun kelor. Nina, bangkit menghampiri Iren yang kini bersama Gian
menghadap ke arah kami. Remang pun tak sanggup menutupi wajah Gian dari
pengenalan sahabatku yang memang biasa memerhatikan foto Gian di dunia sosial
internet. Kami masing-masing saling bersalaman sambil mengenalkan diri. Aku
tahu hati kelima orang disisiku ini sedang terperanjak mendengar nama pria di
samping Iren. Mereka pun tampaknya sampai perpisahan akan menutup mulut untuk
menanyakan Gian tentang teman sekelas di SMA dulu.
“Gian siapa
ren, pacar kamu ya?”, tanya Nina lagi. Tampak Iren masih memikirkan jawaban
yang akan dilontarkan.
“Emm, mantan
pacar”, jawab Iren singkat.
“Loh kok,
balikan ya?”, Nina tampaknya bukan bertanya seakaan penasaran pada kawan lamanya. Aku tahu dia sedang
meyakinkanku untuk melupakan pria yang tepat berdiri di depanku ini. Iren
tersenyum simpul dan menjelaskan perkataannya.
“Kami akan
tunangan. Bukankah Gian akan disebut tunanganku? Oh iya, hari Minggu besok acaranya Nin”. Bara
api yang tadi menembus wajahku seakan sudah menjalar dan membakar seluruh raga.
Jantung yang tadinya berdegup kencang kini kurasa melelah dan melemah dengan
nadi lambat. Kepala yang tadinya kutundukkan tersentak untuk menatap Gian.
Tatapannya sedang memerhatikan Iren yang merogoh tasnya.
“Ini
undangannya ya, kalau bisa kalian berlima datang”, Iren menyodorkan kertas
merah muda itu pada Nina. Aku mengikuti pengalihan kertas itu dari tangan ke
tangan.
“Um, aduh
maaf ren. Kayaknya ada temanku yang bakal kuantar ke rumah sakit”, kupalingkan pandangan
pada Nina. Apa itu semacam singgungan?
“Oh, emang
sakit apa Nin?”
“Gak tau.
Kayaknya sih penyakit hati”
“Waw
hepatitis? Liver? Semoga cepat sembuh temanmu yah. Oh yah Nin, happy new year”, sambung Iren.
“Aku ke
belakang sebentar”, ucapku tak tahan lagi. Aku berbalik dengan langkah terseok
bermaksud cepat menjauh. Tak menyadari kehadiran benda kecil di depan kakiku.
Dengan memalukan aku tersandung dan lututku terantuk hebat ke lantai keras
anjungan. Aku menyesal tidak memakai celana jeans tadinya, hingga rok selutut
yang kukenakan tidak mampu menjaga lututku dari luka yang disebabkan benda
kecil itu.
“Hel”,
mereka teriak bersamaan. Air mataku seakan menembus bendungan yang sejak tadi
terus saja diguyur hujan hingga penuh dan tak mampu lagi untuk menampung air.
Isakanku semakin keras ketika Gian yang pertama bergerak untuk memapah, menarik
lenganku agar dapat berdiri. Kuambil lenganku yang dipegangnya dan tetap
berlutut. Linangan bening itu sudah melewati pipiku dan berjuta-juta temannya
mengikuti. Masing-masing jemariku menutupi kedua mata yang semakin basah.
Kuusap terus namun masih juga terjatuh. Gian menunduk, lalu jongkok di depanku.
“Kamu
kenapa, Helen?”, pertanyaan itu seperti anak kecil yang bertanya bodoh. Aku
sungguh geram padanya kali ini. Seperti sulap yang mencederai otakku, kenangan
indah bersamanya melonjak hingga tiba di titik kebencian tempat otakku
menaruhnya.
“Maaf, len.
Ini bukan kemauanku. Berhentilah untuk 4 tahun itu”, ucapnya sambil mengusap
darah lukaku dengan sapu tangan yang Gian ambil dari saku celana. Aku memegang
lututku yang habis dibersihkannya. Tak tahu mengapa saat itu Iren, Nina, dan
lainnya tak mnghampiri kami sampai jemari Gian menghapus air mataku yang terus
tumpah. Aku bangkit setelah menjauhkan tangannya dari pipiku. Langkah yang
terseok ditambah kepincangan kuharap tak membuat mereka tertawa.
Selang
beberapa menit, aku tidak berjalan sendiri lagi. Kedua lenganku ditopang lima
orang yang tahu benar suasana hatiku saat ini.
“Maafin kami
hel, datang telat”, perkataan yang ingin kusanggah masih tak mampu kubalas.
Isakanku hanya pengisi pita suaraku yang bergetar.
Terkadang
menangis adalah kesejukan yang kudapati dalam musim panas. Seperti aliran air
yang deras dalam kekeringan. Walau terlihat menyedihkan, namun semuanya akan
terobati sehabis itu. Kuharap ini yang terakhir. Menangisi keadaan dan inilah
puncaknya. Menghapus ingatan dengan air mata akan mengubah persepsi otakku
untuk berhenti berharap. Apakah memang hati yang patah penakluk segala kenangan
indah? Aku tak dapat menyambungkan patahan itu sampai ingatan tentang Gian
benar-benar habis terbawa masa lalu.
Keringanan
berjalan itu kurasakan hingga kami sampai di teras rumah. Mereka mendudukkanku
lalu mengambil peralatan untuk luka. Pipiku kering, sepertinya air mata itu
habis.
“Mau diobatin
yang mana ni hel, lutut atau hati?”
“Huss, kamu
ini. Temennya lagi sengsara malah diejekin”
“Sengsara
nelangsa”
“Bener-bener
yah, mulut kalian ini”
“Kita kan
cuman pengen menghibur yak”. Kejahilan mereka memang sanggup menggores senyum.
Aku tahu luka ini akan lama sembuh tetapi sisi positifnya, aku tidak perlu
memaksa diri untuk mengalami kecelakaan. Walau akan menimbulkan bekas, toh
lebih baik daripada lukanya terus terbuka.
Waktu hampir
tiba di pukul 3. Tempat tidurku yang awalnya hanya dapat menampung 3 orang,
dimaksimalkan dengan kehadiran 5 orang ini. Tak perduli sempit, pelukan mereka
cukup menenangkanku.
Kami
menengadah ke langit-langit kamar. Membahas pribadi masing-masing beserta
kesalahan-kesalahan ditahun lalu.
“Kesalahanku
adalah menyukai seseorang yang memang tidak diciptakan untukku”, ucapku saat
mendapat giliran berbicara.
“Udahlah
hel, hal yang gak perlu disesalin. Pengalaman itu gak selamanya indah, harus
ada air mata untuk mengerti betapa hidup butuh perjuangan.”
“Aku pernah denger,
kalau setiap cerita itu selalu berakhir bahagia, kalau belum bahagia maka itu
bukan akhir”
“Sotoy!!”,
bahkan untuk berceramah dengan kata-kata orang, para sahabatku ini masih
membagi-bagi jitakan pada kepala. Namun, aku bersyukur kehadiran, kelucuan
kejahilan, dan keblak-blakan mereka adalah unsur penting dari usahaku untuk
melupakan Gian. Ketika matahari terbenam mereka akan terus seperti itu, tidak
ada yang berubah. Aku bersyukur memiliki mereka.
“Jadi, hel,
hari Minggu kita ke rumah sakit?”, tanya Nina. Semua pandangan kini teralihkan
pada Nina yang sudah melindungi diri dengan selimut tebal, mengetahui kami akan
menyerbunya. Malam tahun baru yang tadinya berantakan kini berusaha dirapikan
oleh sahabat-sahabatku.
“Terima
kasih”, ucapku lirih pada mereka.
“Aku pernah meminta pada Tuhan agar dapat bersamanya. Tetapi sekarang aku
berdoa untuk bersyukur dan meminta agar dia dapat bahagia bersama yang lain
sebab aku tahu kebahagiaanku adalah bukan bersamanya. Maka bahagia adalah
ketika melepasnya untuk dilupakan”
Selasa, 08 Januari 2013
Thank You 2012, Welcome 2013 [Dian Eka Putri Mangedong]
Berbelok Untuk Asa Baru
Apa kau pernah
mengalami sebuah mimpi yang berbelok arah ? Apa terasa menyakitkan ? Kalau
begitu nasib kita sama. Tetapi, satu ketika aku berhenti berdiam disatu titik
gelap itu dan membuka mata untuk jalan lain yang begitu terang dan terbuka untuk kutapaki dengan langkahku.
Tak ada alasan yang membuat satu kebuntuan harus menghentikan harapan, bukan?
Sebuah cap putih
sudah kupatenkan dikepalaku untuk bayaran jas putih yang tak bisa kugapai. Kali
ini satu tekad harus mengantarku pada kebahagiaan melebihi kebanggaan yang
harus kukubur sebelumnya. Juli 2012 menjadi catatan waktu terpenting, mengangkat
janji sebagai perawat sekaligus menetapkan langkah tuk berkembang dititik ini
ketika kulihat namaku tertera dikerta tebal berbingkai seperti bunga, berlogo
universitas dengan tiga angka diantara satu koma diberikan padaku yang membuat
semangat mahasiswa semakin bergejolak bahkan melewati tingginya atap kampus J.`
Percayakah kau
bahwa waktu ternyata bersahabat karib dengan mimpi. Hingga terkadang tanpa kita
sadari mereka membuat rencana tentang perwujudan mimpi kita. Jadi, jangan heran
jika terkadang harus perlu waktu lama untuk membalik mimpi menjadi kenyataan.
Hanya tunggu tanggal mainnya saja, karena sang pengatur waktu punya rencana
tersendiri hingga satu masa terwujud begitu luar biasa.
Mimpiku tak
satu, karena seperti ranting ia terus bercabang. Saat masih mengenakan putih
abu aku pernah bermimpi tentang sebuah profesi yang berkutat dengan huruf.
Bahkan satu masa aku pernah memulai mencoba dan berhenti untuk hasil buruk yang
mesti terbayar. Dibulan yang sama di
2012 ketika huruf C dibibirku sudah kubalik dalam goresan yang terlihat manis dalam pendidikanku, perlahan laterasi mulai
menyentuhku kembali. Beribu kata kurangkai dalam 80 halaman hingga bisa kusebut
itu adalah naskah novel yang berstatus tulisan pertamaku. Hari ini kubaca
kembali dan mendapati tulisan amatir tanpa sedikitpun pengalaman memunculkan
warna merah diwajahku mengingat penolakan penerbit yang sudah membacanya.
Akhirnya, aku
tahu semuanya berawal dari mencoba hingga proses mengajarmu banyak pengalaman
agar kau bisa menemukan hal tepat yang semula kau mulai tanpa tahu apa-apa
karena hanya bermodal mimpi. Nah, mimpi yang menyuruhku untuk belajar. Belajar
dari penulis senior yang membagikan begitu banyak kiat. Sang beliau menyarankan
untuk memulai dari hal kecil.
Akupun mulai
bertengger pada penerbit yang sering memberi kesempatan melalui jalur online.
Kumulai anak tangga pertama dengan membuat cerita pendek bertemakan ibu, hingga
Tuhan mengijinkan namaku tertulis dalam daftar kontributor. Jika seorang
menanyakanku bagaimana rasanya hal biasa itu , akan kujawab begitu luar biasa
di permulaanku.
Mulai kembali
kurevisi naskah novel yang pernah kususun dan kau tahu betapa sulitnya hal itu
bagiku. Agustus 2012, hidupku mulai dikelilingi oleh 2 huruf D dan L. Deadline
cerpen memenuhi dinding kamarku. Namun, faktanya adalah jumlah naskah yang
diterima tidak lebih banyak dari jumlah yang ditolak. Never mind, kata-kata
pasti tidak akan habis kutaruh dalam diatas kertas putih itu.
Pada akhirnya,
anak tanggaku melangkah satu keatas. September 2012, paket hadiah bukupun
kugenggam ditanganku untuk satu cerpen cinta yang membantu namaku terlihat di
daftar juara. 6 bulan di tahun 2012 mengijinkan namaku ditorehkan dalam 7 cover
buku antologi. Royalty yang kemarin hanya kubayangkan bagaimana rasanya
mendapatkannya, akhirnya kutahu bagaimana mengesankannya tulisan dapat memberi
materi. Aku pernah heran pada penulis yang menulis buku hingga berjumlah puluhan
bahkan ratusan dan akhirnya keadaan menjawabnya.
Banyak yang kita
rencanakan terkadang harus terjadi berlawanan dengan hal itu, tapi sadarilah
disitulah keindahan alur kehidupan kita. Jika semuanya berjalan sesuai
keinginan kita sama saja seperti menutup mata untuk keindahan yang tak bisa
terpikirkan oleh otak manusia. Karena sang sutradara luar biasa yang ada di
surga sedang mengatur-ngatur tanggal tepat untuk melihat kita tersenyum untuk
keberhasilan kita.
2013 kembali
menyapa dengan sejuta harapan. Aku siap untuk harapanku menjadi penulis novel,
perawat professional, dan terus menjadi garam dan terang dimanapun berada. Sedikit
penasaran untuk mimpi baru yang datang ke pikiranku tanpa permisi. Hanya
berusaha saja menangkap setiap inspirasi yang melayang diudara, memotret setiap
keadaan yang mungkin bisa dikembangkan, menanam semangat dalam rantai besi yang
sulit tuk diputuskan dan berjalan dalam jalur itu walaupun terkadang kerikil
bahkan batu besarpun membuat langkah terantuk pun terjatuh, hingga harapan itu
bisa mengantarku merasakan semua anak tangga yang bersedia tuk kulalui.
Terima kasih
2012, Welcome 2013.
Bukune: http://bukune.com
Gammara Leather: http://gammaraleather.com"
Senin, 26 November 2012
Download OST Breaking Dawn part 2 & Lirik A Thousand Years part 2
Bagaimana lagu ini begitu romantis, aku juga tak tahu. Yang kutahu lagu ini begitu indah di telingaku.
Christina Perri A Thousand Years Part 2 Lyrics
The day we met,
Frozen I held my breath
Right from the start
I knew that I'd found a home for my heart...
... beats fast
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone?
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
[Chorus:]
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
What's standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer
[Chorus:]
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
One step closer
One step closer
[Chorus:]
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Frozen I held my breath
Right from the start
I knew that I'd found a home for my heart...
... beats fast
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall
But watching you stand alone?
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer
[Chorus:]
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
What's standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer
[Chorus:]
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
One step closer
One step closer
[Chorus:]
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid I have loved you
For a thousand years
I'll love you for a thousand more
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Grrrr,, memikirkan makna liriknya saja membuatku melayang hingga langit ke tujuh.
Nah,, ingin soundtrack Breaking Dawn part 2 fullnya ?
ini dia linknya
http://mp3.li/index.php?q=breaking+dawn+part+2
Langganan:
Postingan (Atom)

