Pages

Selasa, 28 Maret 2017

Thankful Moment


*** 30 Agustus 2016  ***



       "Akhirnya anak-anakku telah sarjana" - Sepenggal kalimat yang pertama dan terngiang di kepalaku saat dan setelah menggunakan toga ini. Semua bakal setuju kalau hari bertoga ini seperti ada rasa-rasa manis, asam, dan pahitnya. Iya gak? Hari ngebanggain orang tua kamu, hari perpisahan dengan teman-teman kamu, hari membuka gerbong kehidupan yang sesungguhnya, hari menjadi pribadi mandiri seutuhnya. Siap gak siap yah kita mesti melangkah juga ke fase hidup yang itu.


      Maksud awal nulis ini sebenarnya cuman buat upload foto ke internet (supaya gak hilang dan musnah gitu) tetapi space yang tersedia cukuplah dipake buat berbagi cerita. Inilah saya! Sejak 2011 saya masuk menjalani profesi sarjana keperawatan dengan niat awal yang sebenarnya bercita-cita lain. Namun semakin berjalan waktu saya percaya semua hal yang saya dapatkan selama menempuh perkuliahan membuat saya mengerti bahwa Jalan yang dibuka Tuhan bagi saya selalu baik dan hebat.   


     Empat tahun bisa disebutlah mahasiswa yang nurut. Nurut kata hati yang bebal maksudnya hehe. Gak lah.... Pesan gue bagi anak-anak kuliah: selagi masih ada kesempatan baca dan belajar ya dipergunakan sebaik-baiknya. Masa muda tanpa bekal ilmu apa-apa bikin kita kurang nilai sumpeh. Menjadi biasa itu biasa, jadi lebih baik berjuang sampe kita temukan hasil yang bisa ngebahagiain orang tua terlebih menjadi saksi Tuhan.


     Ini model baju kebaya saya (sengaja di upload hahah : Made in Rina Tailor dengan model yang gue mix dari internet). Kenapa pilih biru soalnya warna itu aja yang bisa disatuin dipikiran 5 kepala. Kenapa 5, soalnya saya berteman akrab dengan 4  wanita-wanita yang sepakat menyamakan warna kebaya dihari bahagia. Foto studio kami berlima ada kok coba lihat di Facebookku ada... 
    Tips memilih kebaya menurut geng gue (hahaha) jangan pilih warna yang pudar, kalem, atau apalah... pilih yang agak terang supaya kalau foto angkatan gak ketutup sama warna yang (agresif) ahaha. Percaya gak percaya tapi itu bener loh... *asiknya jadi wanita


Then, i love them too much. Belahan jiwaku yang selalu berjuang buat saya dan kakak. Sekarang saat saya memutuskan bekerja di tempat yang jauh dari rumah, saya benar-benar merasakan keluarga adalah harta terbesar dan berharga yang saya punya di dunia ini.




        Pipiku kini tak begini, tetapi dulu memang begitu *singing. Iya tau! Masa-masa kelar kuliah sampe interval nunggu wisuda kamu bisa naik 1-5 kg . Sumpeh!!!! Apalagi kalau nunggu acara wisudanya kelamaan. Tetapi jangan terlalu fokus pipinya... See the pose dong --- ala-ala gadis yang dipandu posenya sama mas photograpernya hahaha.


      Katanya hidup itu harus diekspresikan, tapi jangan palsu yah...

Bahagia itu sederhana kok, sederhana kamu nunggu aku sampe jadi wanita sukses ( hehe ) .



Foto Penutup : Thank You Jesus

Senin, 27 Februari 2017

Benarkah Allah Bekerja?



            “Saat kita khawatir kita sedang membatasi pekerjaan Tuhan dalam hidup kita. Saat kita khawatir kita bahkan ingin membuat doa itu seakan-akan mengabulkan keinginan kita bukan kebutuhan kita, yang sebenarnya di kehendaki Tuhan. Tuhan bersabda dalam Matius 6 : 25 – 34 janganlah khawatir....
               Kalau Hari Minggu ini kamu duduk dalam tempat ini, itu bukan semata-mata karena kamu mau, tetapi Tuhan bekerja untuk mendatangkan kamu ke tempat ini untuk mendengarkan firmanNya - Pengkhotbah”

            Sebagai orang baru di suatu kota, Hari Minggu kemarin aku menghadiri sebuah ibadah Minggu di dekat tempat kediamanku. Kata-kata yang kudengar dari perkataan pengkhotbah itu menimbulkan banyak pertanyaan di benakku. Apa benar langkahku yang tidak sengaja ke tempat ini dikehendaki Tuhan? Bukankah ini hanya kebetulan karena aku mendapati gedung gereja ini tak jauh dari tempat kediamanku?

            Kebiasaan untuk menghubungkan kehidupanku dengan tema yang biasa kudengar di dalam ibadah semakin membuatku ragu. Sepertinya Tuhan tidak menghendakiku kesini. Buktinya khotbahnya tidak menyinggungku sama sekali. Sebab saat ini aku sedang tidak mengkhawatirkan sesuatu hal. Aku hanya menunggu dan mempersiapkan diri untuk besok tes kesehatan di tempatku melamar pekerjaan. Malah khotbah yang kubutuhkan sekarang ialah janji Tuhan kepada anakNya termasuk dalam hal pekerjaan. Namun karena kuanggap sudah duduk dalam gedung ibadah, telingaku tetap kusendengkan ke arah pengkhotbah.

***

            Tanpa ragu kulangkahkan kakiku bersama empat orang temanku untuk pergi medical check up. Seperti biasa pemeriksaan meliputi fisik, mata, darah, thoraks, dan urine. Walaupun hari itu tes urineku belum dilaksanakan karena sedang mendapat tamu bulanan, aku tidak khawatir sama sekali. Satu yang aku pegang bahwa Sang Penciptaku sudah menolongku sedari hari pertama di kota perantauan ini.

 ((Dari susahnya meninggalkan rumah hingga akhirnya dibuat terbiasa dengan kehidupan yang sesungguhnya. Dari sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga akhirnya dibuat Tuhan menjadi terpenuhi. Dari sulitnya hidup sendiri sampai Tuhan menghadirkan orang-orang yang berarti di kehidupan kami. Dari tes kerja pertama hingga sekarang tes terakhir, maka tidak ada alasan bagiku untuk berhenti menyerahkan diri kepadaNya.))

            Sudah tiga hari berlalu sejak tes terakhir dilaksanakan. Satu persatu temanku mendapat panggilan kerja yang akan dimulai enam hari ke depan. Handphoneku saja yang tidak berdering, sebab belum menuntaskan tes kesehatan sebagai prasyarat. Sore di akhir Bulan Februari itu menjadi awal mula kegelisahanku.


         Setelah berpikir enam hari tidak akan mampu mengusir tamu bulananku, kekhawatiranku semakin menjadi. Bagaimana jika aku tidak diterima bekerja karena belum bisa tes urine? Bagaimana jika panggilan kerjaku ditunda sampai bulan depan? Aku harus mencari kerja dimana? Dengan siapa? Sementara kota ini sangat asing bagiku. Apalagi keempat orang yang kutemani merantau sudah sibuk mengurus persiapan masuk kerja. Tuhan aku harus bagaimana? Itu saja yang kupikirkan dalam kekhwatiranku. Seketika itu pula aku teringat isi khotbah Minggu kemarin. Aku sadar, ini yang Tuhan ingin nyatakan dalam kehidupanku. Dan yang terjadi aku benar-benar membatasi pekerjaan Tuhan karena kekhawatiran tidak dapat diterima bekerja di tempat yang sangat kuharapkan.

            Malam ini mungkin aku akan membuat orang tuaku yang jauh di sana tidak bisa tidur. Aku terus mengeraskan hatiku untuk tidak goyah dan terus berpengharapan. Ini belum selesai sebab masih ada enam hari ke depan. Sambil terus bercakap dengan Tuhan aku menanyai semua temanku yang berprofesi bidan mengenai konsumsi yang mampu mempercepat perginya tamu bulanan. Namun hal alami ini memang tidak mampu untuk diperintah berhenti. Aku tahu semua ini terjadi karena kehendak Tuhan. Tidak ada sesuatu yang terjadi kebetulan sebab pena kehidupan Tuhan yang punya. Aku tahu dalam kondisi terberat disitulah Trust dan Surrender yang sesungguhnya.

            Sampai satu hari berlalu dan belum ada panggilan bekerja, aku mencoba bersyukur dan melihat lurus apa yang Tuhan mau dikehidupanku. Mungkin menurut orang ini hal sepele. Mungkin lucu. Tapi bagiku as fresh graduate ini cobaan terbesar di dalam pengharapanku selama enam bulan menanti sebuah pekerjaan. Dari ketegangan itu aku mencoba merelakan. Merelakan walau sebenarnya sedang meminum Vitamin C, rebusan kunyit, air putih segalon, olahraga, bahkan makan buah dan sayur untuk mempercepat tamu bulanan ini hehehe.


            Pada akhirnya aku baru menyadari pekerjaan Tuhan. Dua hari berikutnya “aku dipanggil masuk bekerja bersama dengan temanku yang lain”. Kadang manusia hanya melihat hasil padahal sebenarnya Tuhan mau kita terbentuk dari proses. Bagaimana kita menaruh kekhawatiran di tempat yang tepat sehingga pengharapan dan keyakinan lebih besar dari kegelisahan itu. Aku bersyukur dari lima orang yang tidur bersama di kamar kos yang sama ini Tuhan mengambilku untuk belajar dari setiap kesulitan yang Ia izinkan terjadi untuk mendewasakan iman.

***

         “Kejadian 18 : 1-15 , Bapak Abraham mampu setia selama 24 tahun menanti penggenapan janji Tuhan kuncinya hanya satu Kepekaannya pada Persekutuan dengan Allah. Saat kita peka terhadap kehadiran, kemauan, dan suara Allah maka kita tidak akan pernah ragu untuk jawaban dari janji Tuhan karena kita tahu ia terus bekerja untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup anakNya.....
       Waktu Tuhan membuat kita bertumbuh dalam hal spiritualitas coba dinikmati dan jangan terlalu tegang menghadapi hidup. Kadang Tuhan membuat hal sederhana untuk menjadi pelajaran yang luar biasa dalam hidup manusia, kita hanya perlu Peka terhadap apa yang Tuhan lakukan dalam kehidupan kita." - Pengkhotbah

Seolah merasakan indahnya keragaman pelayanan dalam satu tubuh Kristus, hari Minggu berikutnya aku pergi lagi beribadah di tempat ibadah yang berbeda. Ada perkataan Tuhan lagi yang disampaikan padaku, setelah khotbah kekhawatiran sanggup meneguhkanku seminggu kemarin. Rasanya seperti benar-benar Allah menilik sampai ke dalam hatiku. Ini menjadi alasan terbesar aku menulis tentang ini. Bagaimana Tuhan berbicara padaku melalui semua media yang Ia izinkan aku temui.
Pada akhirnya aku menyadari sudah belajar mengenai sesuatu yang luar biasa dari hal sederhana yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidupku dan benar ini nyata! Jangan sepelekan hal yang sederhana, sebab hati yang peka mampu mengajarkan kita hal bernilai yang sulit kita dapati jika bukan berasal dari Allah dan diri kita sendiri.



Sekalipun Allah tidak pernah berhenti bekerja dalam kehidupan kita, mungkin kita saja yang kadang berhenti berpengharapan hingga lupa jalan untuk menuju ketenangan. Jikalau semua hal tampak begitu-begitu saja tidak ada yang berubah atau berganti, bukannya Allah diam tetapi Ia sedang menunggu kita untuk berharap, menyerahkan diri, dan juga turut bekerja bersamaNya.- Praise The Lord

sumber gambar : Pinterest,  Working Women of Faith 


Selasa, 03 Januari 2017

Jika Malam Tak Pernah Ada



Malam seperti biasa menyelimuti riuh isi kota. Awan gelap membungkus langit dengan tebal. Sudah berkali-kali ditusuk angin malam, tetapi rusukku masih terasa ngilu. Hanya saja, meringkuk di bawah selimut bukanlah takdirku. Apalagi menikmati secangkir teh hangat buatan ibu. Apakah mungkin keistimewaan itu akan terjadi di suatu hari nanti? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.


Seperti malam-malam kemarin, sisi jalan selalu saja ramai. Seolah tidak memberiku ruang untuk menjajakan suara dengan ukuleleku yang usang. Ada yang berdiri menjajakan makanan dan minuman. Sementara seorang bapak tua bertopi itu sudah bersiap mengojek payung. Pemuda di sebelahnya tiap malam bermain sambil menjual mainan plastik. Bahkan ada ibu-ibu yang memegang kemoceng dan siap menyapu-nyapu kaca depan mobil jika lampu merah muncul. Tidak ketinggalan sebangsaku memilih menjual tissue dan juga berkerja sepertiku.

Untung saja tubuh berukuran kecil membantuku melenggang ke celah manapun yang kumau. Apa peduli dengan rambutku yang berantakan ataupun debu kakiku yang mungkin menghinggap pada pakaian orang lain yang kulewati. Jejak-jejak debu itu toh akan tersapu dengan sendirinya. Jika mungkin melekat seperti di wajahku, hujan akan bekerja keras melunturkannya.


            Malam ini mendung. Bagaimanapun itu, aku tetap merindukan bintang, tempatku menggantungkan mimpi yang kurasa terlalu tinggi. Sesekali ia bersembunyi, kemudian muncul, dan menghilang. Bintang seperti itu. Aku memandang dan menginginkannya setiap malam namun tidak pernah bisa kupeluk.

“Bintang di langit, namanya bintang langit. Kalau jatuh ke laut ya bintang laut…” Genjrengan empat senar di antara jemariku setidaknya menggerakkan beberapa tangan menyimpan koin ke dalam kantung bekas permenku. Bahagia…Iya! Terlebih jika aku hinggap di salah satu angkot yang isinya penuh.  Penuh penumpang yang sangat sibuk dengan hanphonenya yang rerata berukuran besar. Penuh kantongan transparan yang bergambar donat. Penuh bungkusan yang beraroma sedap. Sesekali aku bertanya mengapa sang pencipta menciptakan malam yang sangat berbeda di antara para manusia. Tetapi naluriku pasti akan menjawab, “tanpa malam aku pasti tak bisa bertahan hidup”.

Setiap malam aku bersyukur masih dapat tertawa. Apalagi jika sekelompok pengamen kecil, penjual koran, penjual pala, berkumpul dan bermain kejar-kejaran. Akhh… hidup benar-benar mengasyikkan. Aku berharap anak-anak yang biasa melihatku dengan wajah aneh dari balik kaca mobil dapat merasakan kebahagiaan seperti ini juga.

Apa kau tahu? Teriakan-teriakan kami pada malam hari terdengar lebih merdu dari sekedar memelas karena kehabisan uang. Langkah kaki yang bermain saat lampu hijau tiba, lebih seru daripada gelagat panik saat angkot mulai melaju kencang dan masih ada penumpang yang mencari uang untuk diberikan. Antara lompat turun atau ikut saja, itu adalah pilihan terberat. Nasib baik jika melompat turun dan kaki tidak keseleo.


Lampu-lampu jalan masih tetap menyinari bahkan hingga jalanan menjadi sepi. Beberapa kawan lain telah mundur dan sibuk mencari kardus kering. Selain dari itu, satu dua orang sibuk menghitung jajanan kaki limanya. Dan yang tidak terelakkan gertakan para pemabuk yang tidak pernah absen menebar aroma alkoholnya.

Dikala dunia mulai menenang, jantungku bertahap mengencang. Aku meremas kresek pundi uangku dan berlari ke bawah kolong jembatan gantung. Cepat kumasukkan lima lembar uang dua ribu ke dalam kantong baju seragam putihku. Setelah itu, aku langsung berdiam. Duduk di atas selebaran koran dan memakan nasi bungkus bagianku. Kulihat anak-anak lain telah pulang lengkap dengan kricikan, gitar, dan papan bekas. Sementara aku menyobek tempe dengan gigi taringku, keempat anak lelaki di hadapanku sibuk memasukkan lembaran kertas ke dalam celananya.

 Di bawah remang lampu jalanan kulihat dua pria berjaket jeans menghampiri, sama seperti malam-malam biasanya. Aku pasrah dan menikmati satu malam ini lagi. Mereka menarik kerah bajuku hingga aku terangkat menjauhi bungkusan nasi. Kudengar gemeretakan gigi dan kutatap wajah beringas itu. Tanpa kata aku menyerahkan uang dari kantongku. Hal itu tidak akan selesai sampai dua pria ini puas menggeledah kami hingga ke bagian terdalamnya. Jika kosong maka siap saja pipi memerah. Pedisnya cabai yang di makan bersama segenggam nasi,  lebih panas lagi bekas cap jari yang terlempar ke pipi.



"Jika saja malam tak pernah ada, mungkin ibu masih tetap ada. Jika saja malam tak pernah ada, aku hanya menikmati pagi dengan koran dan berlari ke sekolah. Jika saja malam tak pernah ada, aku mungkin tidak akan pernah melihat perbandingan hidup yang penuh keluh dan penuh syukur."
                                                                                    *Salam Anak Jalanan

 sumber gambar : https://id.pinterest.com , ww.mingkem.com , http://hdwallpaperfx.com/ , http://www.pbase.com/





Sabtu, 31 Desember 2016

Selamat Natal dan Tahun Baru - dari Kami : Anak Jalanan

"Anggap saja lampu-lampu jalanan di malam hari mewakili kemewahan yang dapat kami terima."
     Kembali lagi di bulan ini. Waktu terakhir di dalam satu tahun yang penuh cerita. Tinggal menghitung dentang jam dan tahun berganti. Entah mengapa banyak hal di hidup yang hanya sebatas untuk kuinginkan, kurindukan, dan bukan untuk kudapatkan. Terlalu mewah untuk memikirkannya. Anggap saja lampu-lampu jalanan di malam hari mewakili kemewahan yang dapat kami terima. Sementara gema lantunan paduan suara dari bilik gedung ibadah, cukup jadi kado sebagai tanda natal bagi anak jalanan.

          Malam yang dingin membuatku terduduk kaku di depan pintu rumah kardus. Dua adikku tertidur pulas saking lelahnya habis menjajakan koran dan buah pala. Gerimis yang turun dari gelapnya langit membuatku betah untuk berlama-lama menatap ke awan. Sesekali aku mengajak sang penghuni langit untuk berlemparan kata. Bukan tentang mengapa di rumah sepetak ini pohon natal tidak pernah berkelap-kelip. Tetapi hanya mengenai cara pembuatan ramuan yang mampu membajakan hati yang mulai rapuh.

        Sebelum ditinggalkan untuk selamanya karena bencana alam itu, bapak sudah memintaku untuk hidup dengan menutup mata, mengeraskan hati, menguatkan telinga, dan tidak memanjakan tangan. Katanya setiap orang punya porsi dan posisinya masing-masing untuk mengisi dunia. Kalau kita tidak bisa bermewah dan berhura-hura dihari-hari tertentu, itu berarti kita sedang diizinkan untuk merenungkan kesederhanaan. Kalau kita tidak berkesempatan membeli terompet tetapi mampu membuat dan menjajakannya maka disitulah sukacitanya. Kalau manisnya jagung bakar di tahun baru tidak bisa dirasakan, maka membakar dan menjualnya jauh lebih melegakan dibanding menghabiskannya.

     Tentang natal dan tahun baru, kolong jalanan layang telah menyediakan tempat strategis bagi kami. Letupan warna-warni api yang meretas di permukaan langit malam sanggup membuat mata berbinar-binar. Saat-saat inilah kami merasa menjadi orang yang paling spesial. Sebab dihadiahkan kembang api dari berbagai sudut dunia. Terasa seperti berkumpul di atas kepala kami seolah berteriak, “tetaplah semangat dan bersukacita untuk tahun yang baru!”.

     Setidaknya hidup cukup indah, kalau cara bersyukur sudah kami mengerti. Akhir kata, selamat natal dan tahun baru dari kami anak-anak yang meramaikan pinggir dan sudut jalanan kota.
           


sumber gambar : http://www.journalismfund.eu/ http://kisah-motivasi.com/

Kamis, 17 November 2016

Adakah Perbedaan yang Dapat Disamakan?


“It is not our differences that divide us. It is our inability to recognize, accept, and celebrate those differences.” - Audre Lorde

http://repressoclass.blogspot.co.id/
    Tentang waktu yang terus berputar, adakah hal yang tidak akan pernah berubah? Atau adakah sesuatu yang akan tetap sama walau berabad-abad telah sirna? Sejak awal semua memang diciptakan untuk melalui sebuah metamorfosa. Namun yang menjadi pertanyaan dapatkah setiap perbedaan yang lahir akan terus ditolerir oleh semua pihak? Apakah toleransi pada akhirnya akan berubah wujud pula? Apakah ini tentang masa yang terus berubah, atau zaman yang terus berganti, atau generasi yang lahir semakin berbeda dari sebelumnya? Di satu sisi ada yang mengatakan perbedaan itu hanya tinggal digandengkan, seperti air dan minyak walau tidak dapat disatukan tetapi dapat hidup berdampingan. Atau tentang bunga mawar, kembang sepatu, asoka, dan melati. Meskipun berkulit berbeda, namun diatur sangat indah untuk membuat taman semakin bermilai. Disisi lain ada yang berpikir perbedaan hanyalah bayangan yang hanya perlu dilewati untuk menembus suatu kenyataan bahwa kesamaan adalah yang terutama. Ada yang menegur karena seseorang melanggar batasan, lalu kemudian menilai dan menghakimi diluar dari batas eksistensinya.
“The parts of me that used to think I was different or smarter or whatever, almost made me die.” - David Foster Wallace
Jika sebuah nilai yang mencetak citra kesempurnaan mempengaruhi semua ini, dapatkah citra itu dihapuskan saja? Atau coba dikaburkan agar ketidaksempurnaan menjadi sesuatu hal yang membuat kepala tertunduk lagi dan mengatakan semua ini tentang kesalahan yang  patut untuk diperbaiki. Bukan untuk dimenangkan atau dibesar-besarkan agar sebuah konflik baru tentang ‘kebencian’ antar gelombang yang lebih besar terkuak lagi. Apakah perbedaan sebegitu sensitif untuk diperbincangkan sehingga kita harus diam saja dan menikmati jenuhnya keseragaman yang coba dibangun dalam kepalsuan. 
http://www.suarakita.org/
Kita sudah terbiasa hidup saling berdampingan. Melontarkan senyum, menghargai setiap kepercayaan yang hadir ditengah-tengah bangsa. Tidak ada yang terbersit untuk mencoba menjatuhkan ataupun menjelekkan. Kita berbagi dan bahkan bergaul dalam lingkungan yang berbeda-beda. Sampai kemudian sebuah isu negara merubah segalanya. Yang perlu dipertanyakan apakah ini akhir dari toleransi yang sudah terbangun? Atau malah ada bangunan toleransi baru yang coba dibangun untuk menyatakan kehidupan dalam keberagaman masih ada.
Kalau matahari dan bulan masih nampak sehat walau kehadirannya sangat berbeda, mengapa kita yang hidup perjengkal tampak sulit? Apakah ini hanya tentang doktrin penerimaan satu sama lainnya, atau lebih dari itu logika menjadi raja atas segala tindakan. Ada yang benar-benar mengerti sampai memilih diam. Ada pula yang sungguh memahami hingga mencoba meluruskan. Dan sayangnya ada yang tak paham lalu memprovokasi dengan cara yang dianggap benar untuk pembelaan.
Saat dunia sedang sibuk membelokkan rumus demi menemukan suatu keajaiban ilmiah baru, kita malah sibuk membelokkan isu demi pembelaan-pembelaan terhadap kebaikan yang dipaksa sama untuk semua orang. Entah untuk popularitas, kelarisan, pengalihan, atau mungkin sesuatu yang dianggap pembuktian. Dan ternyata pembuktian untuk suatu kebenaran hanya terjadi pada masa-masa tertentu. Padahal kehidupan itu berjalan perdetik.
Hal ini bukan tentang kepercayaan apa dan bagaimana ajarannya. Coba buka mata dan lihat apa yang terjadi. Antara kasih dan rasis. Antara kesalahan penggunaan bahasa dan penggunaan barang berbahaya. Antara kehancuran harga diri dan kehancuran diri. Perbedaan yang coba dibangun dari satu sudut pandang saja tidak akan menemui ujung. Segala persepsi yang muncul hanyalah sebatas persepsi dan ‘syukur-sukur’ jika tidak menimbulkan masalah baru.
 http://lama.elsam.or.id/
Adakah perbedaan yang dapat disamakan? Bahkan kesimpulan dalam diskusi kecil di kelas hanya dapat ditutup jika ada kelapangan dada untuk menerima ujungnya. Akhir dari semua, ternyata bukan perbedaan yang memisahkan. Bukan perbedaan yang membuat masalah. Hanya saja diri kita yang belum siap untuk hidup di antara perbedaan. Satu-satunya jalan hanyalah melapangkan dada. Satu-satunya yang perlu kita ketahui, ada satu kekuatan besar yang memiliki bumi, berkehendak atas dunia, dan memiliki semua yang ada dalamnya. Kehebatan yang kali ini mungkin terlupakan oleh karena hasrat untuk memenangkan sesuatu demi mendapat balasan setimpal untuk sesuatu yang dikatakan ‘pengorbanan’ dalam ukuran manusia.
“The highest result of education is tolerance” - Helen Keller
Kita semua bersaudara, bahkan tersenyum dan mengimani bahwa dunia indah dengan keberagaman  yang dihargai! Selamat Hari Toleransi! – 16 November 2016