Jumat, 28 Desember 2018
Kali Pertama
Hari itu lintasan orbitmu mulai berputar disekelilingku. Kurasakan seberapa besar kamu berjuang membuka kuncinya.
Hari itu, kali pertama kubuka pintu lintasan tak lupa mengaitkan batasan.
Waktu itu kamu berlagak mengerti dan bersedia hadir disetiap waktu. Kamu lalu menjadi sumber kebahagiaan tanpa kusangka. Kubangun rumah dalam hati itu. Setidaknya aku bisa pulang kesana jikalau perlu.
Waktu itu, kali pertama kugantungkan hidup pada manusia lain sambil mempelajari kesendirian.
Hari itu kamu mengutuk kutipan buku yang kutunjukkan. Berpikir seolah kamu terpinggirkan; oleh karena salah memahami isi bacaannya.
Hari itu, kali pertama aku berhenti membaca buku yang awalnya kusukai.
Minggu itu, Kita bak ombak. Naik turun tapi tak mencapai pesisir. Kita tidak pernah sampai di hulu. Bak dua insan yang terapung mengikut arus.
Minggu itu, kali pertama aku melepas keyakinan untuk bisa bersama.
Malam itu, air langit tumpah dengan derasnya, kita saling meneguhkan hati utk saling mundur dan sling pergi.
Malam itu, kali pertama aku mengumpat mengapa hujan mesti turun di malam itu. Padahal sebelumnya hujan itu canduku.
Seberapa besar yang sudah kuhilangkan demi memunculkan kamu? Padahal kita tidak benar-benar kita. Kita memang hanya sesuatu yang terlanjur karena waktu. Kenyatanyaannya takdir membawa kita hanya sebatas saling mempelajari dan tidak lebih.
Tujuan itu tidak pernah setitik. Jadi seberapa jauh pun melangkah bersama akan ada dua jalur yang tercipta.
Pada hari terakhir kita saling menatap, semesta sedang mengulur dua ujung yang terlanjur dekat agar bisa berjauhan. Akhirnya, kali pertama kutahu, kita ternyata ditakdirkan seperti itu.
Selasa, 28 Maret 2017
Thankful Moment
*** 30 Agustus 2016 ***
"Akhirnya anak-anakku telah sarjana" - Sepenggal kalimat yang pertama dan terngiang di kepalaku saat dan setelah menggunakan toga ini. Semua bakal setuju kalau hari bertoga ini seperti ada rasa-rasa manis, asam, dan pahitnya. Iya gak? Hari ngebanggain orang tua kamu, hari perpisahan dengan teman-teman kamu, hari membuka gerbong kehidupan yang sesungguhnya, hari menjadi pribadi mandiri seutuhnya. Siap gak siap yah kita mesti melangkah juga ke fase hidup yang itu.
Maksud awal nulis ini sebenarnya cuman buat upload foto ke internet (supaya gak hilang dan musnah gitu) tetapi space yang tersedia cukuplah dipake buat berbagi cerita. Inilah saya! Sejak 2011 saya masuk menjalani profesi sarjana keperawatan dengan niat awal yang sebenarnya bercita-cita lain. Namun semakin berjalan waktu saya percaya semua hal yang saya dapatkan selama menempuh perkuliahan membuat saya mengerti bahwa Jalan yang dibuka Tuhan bagi saya selalu baik dan hebat.
Empat tahun bisa disebutlah mahasiswa yang nurut. Nurut kata hati yang bebal maksudnya hehe. Gak lah.... Pesan gue bagi anak-anak kuliah: selagi masih ada kesempatan baca dan belajar ya dipergunakan sebaik-baiknya. Masa muda tanpa bekal ilmu apa-apa bikin kita kurang nilai sumpeh. Menjadi biasa itu biasa, jadi lebih baik berjuang sampe kita temukan hasil yang bisa ngebahagiain orang tua terlebih menjadi saksi Tuhan.
Empat tahun bisa disebutlah mahasiswa yang nurut. Nurut kata hati yang bebal maksudnya hehe. Gak lah.... Pesan gue bagi anak-anak kuliah: selagi masih ada kesempatan baca dan belajar ya dipergunakan sebaik-baiknya. Masa muda tanpa bekal ilmu apa-apa bikin kita kurang nilai sumpeh. Menjadi biasa itu biasa, jadi lebih baik berjuang sampe kita temukan hasil yang bisa ngebahagiain orang tua terlebih menjadi saksi Tuhan.
Ini model baju kebaya saya (sengaja di upload hahah : Made in Rina Tailor dengan model yang gue mix dari internet). Kenapa pilih biru soalnya warna itu aja yang bisa disatuin dipikiran 5 kepala. Kenapa 5, soalnya saya berteman akrab dengan 4 wanita-wanita yang sepakat menyamakan warna kebaya dihari bahagia. Foto studio kami berlima ada kok coba lihat di Facebookku ada...
Tips memilih kebaya menurut geng gue (hahaha) jangan pilih warna yang pudar, kalem, atau apalah... pilih yang agak terang supaya kalau foto angkatan gak ketutup sama warna yang (agresif) ahaha. Percaya gak percaya tapi itu bener loh... *asiknya jadi wanita
Then, i love them too much. Belahan jiwaku yang selalu berjuang buat saya dan kakak. Sekarang saat saya memutuskan bekerja di tempat yang jauh dari rumah, saya benar-benar merasakan keluarga adalah harta terbesar dan berharga yang saya punya di dunia ini.
Pipiku kini tak begini, tetapi dulu memang begitu *singing. Iya tau! Masa-masa kelar kuliah sampe interval nunggu wisuda kamu bisa naik 1-5 kg . Sumpeh!!!! Apalagi kalau nunggu acara wisudanya kelamaan. Tetapi jangan terlalu fokus pipinya... See the pose dong --- ala-ala gadis yang dipandu posenya sama mas photograpernya hahaha.
Bahagia itu sederhana kok, sederhana kamu nunggu aku sampe jadi wanita sukses ( hehe ) .
Foto Penutup : Thank You Jesus
Senin, 27 Februari 2017
Benarkah Allah Bekerja?
“Saat kita khawatir kita sedang membatasi pekerjaan Tuhan dalam hidup kita. Saat kita khawatir kita bahkan ingin membuat doa itu seakan-akan mengabulkan keinginan kita bukan kebutuhan kita, yang sebenarnya di kehendaki Tuhan. Tuhan bersabda dalam Matius 6 : 25 – 34 janganlah khawatir....
Kalau Hari Minggu ini kamu duduk dalam tempat ini, itu bukan semata-mata karena kamu mau, tetapi Tuhan bekerja untuk mendatangkan kamu ke tempat ini untuk mendengarkan firmanNya - Pengkhotbah”
Kalau Hari Minggu ini kamu duduk dalam tempat ini, itu bukan semata-mata karena kamu mau, tetapi Tuhan bekerja untuk mendatangkan kamu ke tempat ini untuk mendengarkan firmanNya - Pengkhotbah”
Sebagai orang baru di suatu kota, Hari
Minggu kemarin aku menghadiri sebuah ibadah Minggu di dekat tempat kediamanku.
Kata-kata yang kudengar dari perkataan pengkhotbah itu menimbulkan banyak
pertanyaan di benakku. Apa benar langkahku yang tidak sengaja ke tempat ini
dikehendaki Tuhan? Bukankah ini hanya kebetulan karena aku mendapati gedung
gereja ini tak jauh dari tempat kediamanku?
Kebiasaan
untuk menghubungkan kehidupanku dengan tema yang biasa kudengar di dalam ibadah
semakin membuatku ragu. Sepertinya Tuhan tidak menghendakiku kesini. Buktinya
khotbahnya tidak menyinggungku sama sekali. Sebab saat ini aku sedang tidak
mengkhawatirkan sesuatu hal. Aku hanya menunggu dan mempersiapkan diri untuk
besok tes kesehatan di tempatku melamar pekerjaan. Malah khotbah yang
kubutuhkan sekarang ialah janji Tuhan kepada anakNya termasuk dalam hal
pekerjaan. Namun karena kuanggap sudah duduk dalam gedung ibadah, telingaku
tetap kusendengkan ke arah pengkhotbah.
***
Tanpa ragu kulangkahkan kakiku
bersama empat orang temanku untuk pergi medical check up. Seperti biasa
pemeriksaan meliputi fisik, mata, darah, thoraks, dan urine. Walaupun hari itu
tes urineku belum dilaksanakan karena sedang mendapat tamu bulanan, aku tidak
khawatir sama sekali. Satu yang aku pegang bahwa Sang Penciptaku sudah menolongku sedari hari pertama di kota perantauan ini.
((Dari susahnya meninggalkan rumah
hingga akhirnya dibuat terbiasa dengan kehidupan yang sesungguhnya. Dari
sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga akhirnya dibuat Tuhan menjadi
terpenuhi. Dari sulitnya hidup sendiri sampai Tuhan menghadirkan orang-orang
yang berarti di kehidupan kami. Dari tes kerja pertama hingga sekarang tes
terakhir, maka tidak ada alasan bagiku untuk berhenti menyerahkan diri
kepadaNya.))
Sudah tiga hari berlalu sejak tes
terakhir dilaksanakan. Satu persatu temanku mendapat panggilan kerja yang akan dimulai
enam hari ke depan. Handphoneku saja yang tidak berdering, sebab belum
menuntaskan tes kesehatan sebagai prasyarat. Sore di akhir Bulan Februari itu
menjadi awal mula kegelisahanku.
Setelah berpikir enam hari tidak akan mampu mengusir tamu bulananku, kekhawatiranku semakin menjadi. Bagaimana jika aku tidak diterima bekerja karena belum bisa tes urine? Bagaimana jika panggilan kerjaku ditunda sampai bulan depan? Aku harus mencari kerja dimana? Dengan siapa? Sementara kota ini sangat asing bagiku. Apalagi keempat orang yang kutemani merantau sudah sibuk mengurus persiapan masuk kerja. Tuhan aku harus bagaimana? Itu saja yang kupikirkan dalam kekhwatiranku. Seketika itu pula aku teringat isi khotbah Minggu kemarin. Aku sadar, ini yang Tuhan ingin nyatakan dalam kehidupanku. Dan yang terjadi aku benar-benar membatasi pekerjaan Tuhan karena kekhawatiran tidak dapat diterima bekerja di tempat yang sangat kuharapkan.
Setelah berpikir enam hari tidak akan mampu mengusir tamu bulananku, kekhawatiranku semakin menjadi. Bagaimana jika aku tidak diterima bekerja karena belum bisa tes urine? Bagaimana jika panggilan kerjaku ditunda sampai bulan depan? Aku harus mencari kerja dimana? Dengan siapa? Sementara kota ini sangat asing bagiku. Apalagi keempat orang yang kutemani merantau sudah sibuk mengurus persiapan masuk kerja. Tuhan aku harus bagaimana? Itu saja yang kupikirkan dalam kekhwatiranku. Seketika itu pula aku teringat isi khotbah Minggu kemarin. Aku sadar, ini yang Tuhan ingin nyatakan dalam kehidupanku. Dan yang terjadi aku benar-benar membatasi pekerjaan Tuhan karena kekhawatiran tidak dapat diterima bekerja di tempat yang sangat kuharapkan.
Malam ini mungkin aku akan membuat
orang tuaku yang jauh di sana tidak bisa tidur. Aku terus mengeraskan hatiku
untuk tidak goyah dan terus berpengharapan. Ini belum selesai sebab masih ada
enam hari ke depan. Sambil terus bercakap dengan Tuhan aku menanyai semua
temanku yang berprofesi bidan mengenai konsumsi yang mampu mempercepat perginya
tamu bulanan. Namun hal alami ini memang tidak mampu untuk diperintah berhenti.
Aku tahu semua ini terjadi karena kehendak Tuhan. Tidak ada sesuatu yang terjadi
kebetulan sebab pena kehidupan Tuhan yang punya. Aku tahu dalam kondisi
terberat disitulah Trust dan Surrender yang sesungguhnya.
Sampai satu hari berlalu dan belum
ada panggilan bekerja, aku mencoba bersyukur dan melihat lurus apa yang Tuhan
mau dikehidupanku. Mungkin menurut orang ini hal sepele. Mungkin lucu.
Tapi bagiku as fresh graduate ini
cobaan terbesar di dalam pengharapanku selama enam bulan menanti sebuah
pekerjaan. Dari ketegangan itu aku mencoba merelakan. Merelakan walau
sebenarnya sedang meminum Vitamin C, rebusan kunyit, air putih segalon,
olahraga, bahkan makan buah dan sayur untuk mempercepat tamu bulanan ini
hehehe.
Pada akhirnya aku baru menyadari
pekerjaan Tuhan. Dua hari berikutnya “aku
dipanggil masuk bekerja bersama dengan temanku yang lain”. Kadang manusia hanya
melihat hasil padahal sebenarnya Tuhan mau kita terbentuk dari proses.
Bagaimana kita menaruh kekhawatiran di tempat yang tepat sehingga pengharapan
dan keyakinan lebih besar dari kegelisahan itu. Aku bersyukur dari lima orang
yang tidur bersama di kamar kos yang sama ini Tuhan mengambilku untuk belajar
dari setiap kesulitan yang Ia izinkan terjadi untuk mendewasakan iman.
***
“Kejadian 18 : 1-15 , Bapak Abraham mampu setia
selama 24 tahun menanti penggenapan janji Tuhan kuncinya hanya satu Kepekaannya
pada Persekutuan dengan Allah. Saat kita peka terhadap kehadiran, kemauan, dan
suara Allah maka kita tidak akan pernah ragu untuk jawaban dari janji Tuhan
karena kita tahu ia terus bekerja untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup
anakNya.....
Waktu Tuhan membuat kita bertumbuh dalam hal spiritualitas coba dinikmati dan jangan terlalu tegang menghadapi hidup. Kadang Tuhan membuat hal sederhana untuk menjadi pelajaran yang luar biasa dalam hidup manusia, kita hanya perlu Peka terhadap apa yang Tuhan lakukan dalam kehidupan kita." - Pengkhotbah
Waktu Tuhan membuat kita bertumbuh dalam hal spiritualitas coba dinikmati dan jangan terlalu tegang menghadapi hidup. Kadang Tuhan membuat hal sederhana untuk menjadi pelajaran yang luar biasa dalam hidup manusia, kita hanya perlu Peka terhadap apa yang Tuhan lakukan dalam kehidupan kita." - Pengkhotbah
Seolah merasakan indahnya keragaman pelayanan dalam satu tubuh Kristus,
hari Minggu berikutnya aku pergi lagi beribadah di tempat ibadah yang berbeda.
Ada perkataan Tuhan lagi yang disampaikan padaku, setelah khotbah kekhawatiran
sanggup meneguhkanku seminggu kemarin. Rasanya seperti benar-benar Allah
menilik sampai ke dalam hatiku. Ini menjadi alasan terbesar aku menulis tentang
ini. Bagaimana Tuhan berbicara padaku melalui semua media yang Ia izinkan aku
temui.
Pada akhirnya aku menyadari sudah belajar mengenai sesuatu yang luar biasa dari hal sederhana yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidupku dan benar ini nyata! Jangan sepelekan hal yang sederhana, sebab hati yang peka mampu mengajarkan kita hal bernilai yang sulit kita dapati jika bukan berasal dari Allah dan diri kita sendiri.
Pada akhirnya aku menyadari sudah belajar mengenai sesuatu yang luar biasa dari hal sederhana yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidupku dan benar ini nyata! Jangan sepelekan hal yang sederhana, sebab hati yang peka mampu mengajarkan kita hal bernilai yang sulit kita dapati jika bukan berasal dari Allah dan diri kita sendiri.
Sekalipun Allah tidak pernah berhenti bekerja dalam kehidupan kita,
mungkin kita saja yang kadang berhenti berpengharapan hingga lupa jalan untuk
menuju ketenangan. Jikalau semua hal tampak begitu-begitu saja tidak ada yang
berubah atau berganti, bukannya Allah diam tetapi Ia sedang menunggu kita untuk
berharap, menyerahkan diri, dan juga turut bekerja bersamaNya.- Praise The Lord
Selasa, 03 Januari 2017
Jika Malam Tak Pernah Ada
Malam seperti biasa menyelimuti riuh isi kota. Awan gelap membungkus
langit dengan tebal. Sudah berkali-kali ditusuk angin malam, tetapi rusukku masih
terasa ngilu. Hanya saja, meringkuk di bawah selimut bukanlah takdirku. Apalagi
menikmati secangkir teh hangat buatan ibu. Apakah mungkin keistimewaan itu akan
terjadi di suatu hari nanti? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.
Seperti malam-malam kemarin, sisi jalan selalu saja ramai. Seolah tidak
memberiku ruang untuk menjajakan suara dengan ukuleleku yang usang. Ada yang
berdiri menjajakan makanan dan minuman. Sementara seorang bapak tua bertopi itu
sudah bersiap mengojek payung. Pemuda di sebelahnya tiap malam bermain sambil
menjual mainan plastik. Bahkan ada ibu-ibu yang memegang kemoceng dan siap
menyapu-nyapu kaca depan mobil jika lampu merah muncul. Tidak ketinggalan
sebangsaku memilih menjual tissue dan juga berkerja sepertiku.
Untung saja tubuh berukuran kecil membantuku melenggang ke celah manapun
yang kumau. Apa peduli dengan rambutku yang berantakan ataupun debu kakiku yang
mungkin menghinggap pada pakaian orang lain yang kulewati. Jejak-jejak debu itu
toh akan tersapu dengan sendirinya. Jika mungkin melekat seperti di wajahku,
hujan akan bekerja keras melunturkannya.
Malam ini mendung. Bagaimanapun itu,
aku tetap merindukan bintang, tempatku menggantungkan mimpi yang kurasa terlalu
tinggi. Sesekali ia bersembunyi, kemudian muncul, dan menghilang. Bintang
seperti itu. Aku memandang dan menginginkannya setiap malam namun tidak pernah
bisa kupeluk.
“Bintang di langit, namanya bintang
langit. Kalau jatuh ke laut ya bintang laut…” Genjrengan empat senar di
antara jemariku setidaknya menggerakkan beberapa tangan menyimpan koin ke dalam
kantung bekas permenku. Bahagia…Iya! Terlebih jika aku hinggap di salah satu
angkot yang isinya penuh. Penuh
penumpang yang sangat sibuk dengan hanphonenya yang rerata berukuran besar. Penuh
kantongan transparan yang bergambar donat. Penuh bungkusan yang beraroma sedap.
Sesekali aku bertanya mengapa sang pencipta menciptakan malam yang sangat
berbeda di antara para manusia. Tetapi naluriku pasti akan menjawab, “tanpa
malam aku pasti tak bisa bertahan hidup”.
Setiap malam aku bersyukur masih dapat tertawa. Apalagi jika sekelompok
pengamen kecil, penjual koran, penjual pala, berkumpul dan bermain
kejar-kejaran. Akhh… hidup benar-benar mengasyikkan. Aku berharap anak-anak
yang biasa melihatku dengan wajah aneh dari balik kaca mobil dapat merasakan
kebahagiaan seperti ini juga.
Apa kau tahu? Teriakan-teriakan kami pada malam hari terdengar lebih
merdu dari sekedar memelas karena kehabisan uang. Langkah kaki yang bermain
saat lampu hijau tiba, lebih seru daripada gelagat panik saat angkot mulai
melaju kencang dan masih ada penumpang yang mencari uang untuk diberikan.
Antara lompat turun atau ikut saja, itu adalah pilihan terberat. Nasib baik
jika melompat turun dan kaki tidak keseleo.
Lampu-lampu jalan masih tetap menyinari bahkan hingga jalanan menjadi
sepi. Beberapa kawan lain telah mundur dan sibuk mencari kardus kering. Selain
dari itu, satu dua orang sibuk menghitung jajanan kaki limanya. Dan yang tidak
terelakkan gertakan para pemabuk yang tidak pernah absen menebar aroma
alkoholnya.
Dikala dunia mulai menenang, jantungku bertahap mengencang. Aku meremas
kresek pundi uangku dan berlari ke bawah kolong jembatan gantung. Cepat
kumasukkan lima lembar uang dua ribu ke dalam kantong baju seragam putihku. Setelah
itu, aku langsung berdiam. Duduk di atas selebaran koran dan memakan nasi
bungkus bagianku. Kulihat anak-anak lain telah pulang lengkap dengan kricikan,
gitar, dan papan bekas. Sementara aku menyobek tempe dengan gigi taringku,
keempat anak lelaki di hadapanku sibuk memasukkan lembaran kertas ke dalam
celananya.
Di bawah remang lampu jalanan
kulihat dua pria berjaket jeans menghampiri, sama seperti malam-malam biasanya.
Aku pasrah dan menikmati satu malam ini lagi. Mereka menarik kerah bajuku
hingga aku terangkat menjauhi bungkusan nasi. Kudengar gemeretakan gigi dan
kutatap wajah beringas itu. Tanpa kata aku menyerahkan uang dari kantongku. Hal
itu tidak akan selesai sampai dua pria ini puas menggeledah kami hingga ke
bagian terdalamnya. Jika kosong maka siap saja pipi memerah. Pedisnya cabai
yang di makan bersama segenggam nasi, lebih
panas lagi bekas cap jari yang terlempar ke pipi.
"Jika saja malam tak pernah ada, mungkin ibu masih tetap ada. Jika saja malam tak pernah ada, aku hanya menikmati pagi dengan koran dan berlari ke sekolah. Jika saja malam tak pernah ada, aku mungkin tidak akan pernah melihat perbandingan hidup yang penuh keluh dan penuh syukur."
Sabtu, 31 Desember 2016
Selamat Natal dan Tahun Baru - dari Kami : Anak Jalanan
"Anggap saja lampu-lampu jalanan di malam hari mewakili kemewahan yang dapat kami terima."
Kembali lagi di bulan ini. Waktu terakhir di dalam satu tahun yang penuh cerita. Tinggal menghitung dentang jam dan tahun berganti. Entah mengapa banyak hal di hidup yang hanya sebatas untuk kuinginkan, kurindukan, dan bukan untuk kudapatkan. Terlalu mewah untuk memikirkannya. Anggap saja lampu-lampu jalanan di malam hari mewakili kemewahan yang dapat kami terima. Sementara gema lantunan paduan suara dari bilik gedung ibadah, cukup jadi kado sebagai tanda natal bagi anak jalanan.
Malam yang dingin membuatku terduduk kaku di depan pintu rumah kardus. Dua adikku tertidur pulas saking lelahnya habis menjajakan koran dan buah pala. Gerimis yang turun dari gelapnya langit membuatku betah untuk berlama-lama menatap ke awan. Sesekali aku mengajak sang penghuni langit untuk berlemparan kata. Bukan tentang mengapa di rumah sepetak ini pohon natal tidak pernah berkelap-kelip. Tetapi hanya mengenai cara pembuatan ramuan yang mampu membajakan hati yang mulai rapuh.
Sebelum ditinggalkan untuk selamanya karena bencana alam itu, bapak sudah memintaku untuk hidup dengan menutup mata, mengeraskan hati, menguatkan telinga, dan tidak memanjakan tangan. Katanya setiap orang punya porsi dan posisinya masing-masing untuk mengisi dunia. Kalau kita tidak bisa bermewah dan berhura-hura dihari-hari tertentu, itu berarti kita sedang diizinkan untuk merenungkan kesederhanaan. Kalau kita tidak berkesempatan membeli terompet tetapi mampu membuat dan menjajakannya maka disitulah sukacitanya. Kalau manisnya jagung bakar di tahun baru tidak bisa dirasakan, maka membakar dan menjualnya jauh lebih melegakan dibanding menghabiskannya.
Tentang natal dan tahun baru, kolong jalanan layang telah menyediakan tempat strategis bagi kami. Letupan warna-warni api yang meretas di permukaan langit malam sanggup membuat mata berbinar-binar. Saat-saat inilah kami merasa menjadi orang yang paling spesial. Sebab dihadiahkan kembang api dari berbagai sudut dunia. Terasa seperti berkumpul di atas kepala kami seolah berteriak, “tetaplah semangat dan bersukacita untuk tahun yang baru!”.
Setidaknya hidup cukup indah, kalau cara bersyukur sudah kami mengerti. Akhir kata, selamat natal dan tahun baru dari kami anak-anak yang meramaikan pinggir dan sudut jalanan kota.
sumber gambar : http://www.journalismfund.eu/ http://kisah-motivasi.com/
Langganan:
Postingan (Atom)













